Beranda » Uncategorized » Manajemen Kelas

Manajemen Kelas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh strategi pemblejaran yang dilakukan oleg guru. Guru dituntut memahami komponen-komponen dasar dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk paham tentang filosofis dan mengajar dan belajar itu sendiri. Mengajar tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, akan tetapi juga sejumlah perilaku yang akan menjadi kepemilikan siswa.
Pengaturan metode, strategi, dan kelengkapan dalam pengajaran adalah bagian dari kegiatan manajemen pembelajaran yan harus dilakukan oleh guru. Untuk mewujudkan manajemen kelas di sekolah, lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Manajemen kelas di sekolah tidak hanya pengaturan belajar, fasilitas fisik, dan rutinitas, tetapi menyiapkan kondisi kelas dan lingkungan sekolah agar tercipta kenyamanan dan suasana belajar yang efektif. Oleh karena itu, sekolah dan kelas perlu dikelola secara baik, dan menciptakan iklim belajar yang menunjang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis mengambil beberapa rumusan masalah, diantaranya:
1. Bagaimana konsep manajemen kelas?
2. Apa saja aspek, fungsi dan masalah dalam manajemen kelas?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui konsep manajemen kelas.
2. Untuk mengetahui aspek, fungsi dan masalah dalam manajemen kelas.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Manajemen Kelas
1. Pengertian Manajemen Kelas
Setiap ahli memberi pandangan yang berbeda tentang batasan manajemen, karena itu tidak mudah member arti universal yang dapat diterima semua orang. Namun demikian dari pikiran-pikiran ahli tentang definisi manajemen kebanyakan menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses tertentu yang menggunakan kemampuan atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang di dalam pelaksanaanya dapat mengikuti alur keilmuan secara ilmiah dan dapat pula menunjukkan kekhasan atau gaya manajer dalam mendayagunakan kemampuan orang lain.
Dengan demikian terdapat tiga focus untuk mengartikan manajamen, yaitu:
1. Manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang selanjutnya manjadi cikal bakal manajemen sebagai suatu profesi. Manajemen sebagai suatu ilmu menekankan perhatian pada keterampilan dan kemampuan manajerial yang diklasifikasikan menjadi kemampuan keterampilan teknikal, manusiawi, dan konseptual.
2. Manajemen sebagai proses yaitu dengan menentukan langkah yang sistematis dan terpadu sebagai aktifitas manajemen.
3. Manajemen sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan.
Dengan demikian manajemen merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain dalam upaya mencapai tujuan organisasi secara produktif, efektif, dan efisien.
Dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan pengaturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai.
Menurut Dirjen Dikdasmen yang menjadi tujuan manajemen kelas adalah:
1. Mewujudkan siatuasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan social, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
4. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang social, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
Manajemen kelas adalah rentetan kegiatan guru untuk menumbukan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif, yaitu meliputi; tujuan pengajaran, pengaturan waktu, pengaturan ruangan dan peralatan, dan pengelompokan siswa dalam belajar.
Menurut Raka Joni pengelolaan kelas adalah segala kegiatan guru di kelas yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar.
Sedangkan menurut M. Entang pengelolaan kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.

B. Kegiatan Manajemen Kelas
Kegiatan manajemen kelas (pengelolaan kelas) meliputi dua kegiatan yang secara garis besar terdiri dari:
1. Pengaturan Siswa
Siswa adalah orang yang melakukan aktifitas dan kegiatan di kelas yang ditempatkan sebagai objek dan karena perkembangan ilmu pengetahuan dan kesadaran manusia, maka siswa bergerak kemudian menduduki fungsi sebagai subyek. Artinya siswa bukan barang atau obyek yang hanya dikenai akan tetapi juga merupakan obyek yang memiliki potensi dan pilihan untuk bergerak. Pergerakan yang terjadi dalam konteks pencapaian tujuan tidak sembarang. Artinya dalam hal ini fungsi guru tetap memiliki proporsi yang besar untuk dapat membimbing, mengarahkan dan memandu setiap aktifitas yang harus dilakukan siswa. Oleh karena itu pengaturan orang atau siswa adalah bagaimana mengatur dan menempatkan siswa dalam kelas sesuai dengan potensi intelektual dan perkembangan emosionalnya. Siswa diberikan kesempatan untuk memperoleh posisi dalam belajar yang sesuai dengan minat dan keinginannya.

2. Pengaturan Fasilitas
Aktifitas dalam kelas baik guru maupun siswa dalam kelas kelangsungannya akan banyak dipengaruhi oleh kondisi dan situasi fisik lingkungan kelas. Oleh karena itu lingkungan fisik kelas berupa sarana dan prasarana kelas harus dapat memenuhi dan mendukung interaksi yang terjadi, sehingga harmonisasi kehidupan kelas dapat berlangsung dengan baik dari permulaan masa kegiatan belajar mengajar sampai akhir masa belajar mengajar. kriteria minimal meliputi aman, estetika, sehat, cukup, bermutu, dan nyaman, yang terpenting bahwa dengan fasilitas yang minim dapat diatur dengan baik sehingga daya gunanya lebih tinggi. Pengaturan fasilitas adalah kegiatan yang harus dilakukan siswa sehingga seluruh siswa dapat terfasilitasi dalam aktifitasnya di dalam kelas. Pengaturan fisik kelas diarahkan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa sehingga siswa merasa senang, nyaman, aman dan belajar dengan baik.
Adapun kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen kelas yang tertuang dalam petunjuk pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:
a) Mengecek kehadiran siswa. Siswa dilihat keberadaannya satu persatu terutama diarahkan untuk melihat kesiapannya dalam mengikuti proses belajar mengajar, kesiapan secara fisik terutama mental karena dengan perhatian dari awal akan memberikan dorongan kepada mereka untuk dapat mengikuti kegiatan dalam kelas dengan baik.
b) Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil pekerjaan tersebut. Pekerjaan yang sudah diberikan hendaknya dengan cepat dikumpulkan dan diberikan komentar singkat sehingga rasa penghargaan yang tinggi dapat memberikan motivasi atas kerja yang sudah dilakukan.
c) Pendistribusian bahan dan alat. Apabila ada alat dan bahan belajar yang harus didistribusikan maka secara adil dan proporsional setiap siswa memperoleh kesempatan untuk melakukan praktik atau menggunakan alat dan bahan dalam proses belajarnya.
d) Mengumpulkan informasi dari siswa. Banyak informasi yang berguna bagi guru dan bagi siswa itu sendiri yang dapat diperoleh dari sswa baik yang berupa informasi tentang pribadi siswa maupun berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan siswa yang harus dan sudah dikerjakan.
e) Mencatat data. Data-data siswa baik secara perorangan maupun kelompok yang menyangkut individu maupun pekerjaan sangat penting untuk dicatat karena akan mendukung guru dalam memberikan evaluasi akhir terhadap pencapaian hasil pekerjaan siswa.
f) Pemeliharaan arsip. Arsip-arsip tentang kegiatan dalam kelas disimpan dan ditata dengan rapi dan dipelihara sebagai tanggungjawab bersama sehingga dapat memberikan informasi baik bagi guru maupun bagi siswa.
g) Menyampaikan materi pembelajaran. Tugas utama guru adalah memberikan informasi tentang bahan belajar yang harus dilakukan siswa dengan teratur dan dapat menggunakan berbagai media dan informasi yang ada dalam kelas.
h) Memberikan tugas/PR. Penugasan adalah proses memberikan tanggungjawab kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara mandiri dan dapat mengevaluasi kemampuan secara sendiri.
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan para guru, khususnya guru dalam pertemuan dengan siswa di dalam kelas menurut Dirjen POUD dan Dirjen Dikdasmen adalah:
a) Ketika bertemu dengan siswa, guru harus;
– Bersikap tenang dan percaya diri
– Tidak menunjukkan rasa cemas, muka masam atau sikap tidak simpatik
– Memberikan salam
b) Guru memberikan tugas kepada siswa dengan tertib dan lancar.
c) Mengatur tempat duduk siswa dengan tertib dan lancar
d) Menentukan tata cara berbicara dan tanya jawab
e) Bertindak disiplin baik terhadap siswa maupun diri sendiri.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Kelas
Berhasilnya manajemen kelas dalam memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai, banyak dipengaruhi oleh berbagai factor. Faktor-faktor tersebut melekat pada kondisi fisik kelas dan pendukungnya, juga dipengaruhi oleh faktor non fisik (sosio-emosional) yang melekat pada guru. Untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang baik, ada beberapa factor yang mempengaruhi antara lain:
a) Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatkanya intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Lingkungan fisik yang dimaksudkan meliputi:
1) Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
Ruangan tempat belajar harus memungkinkan semua siswa bergerak leluasa, tidak berdesak-desakan dan tidak mengganggu antara siswa yang satu dengan lainnya pada saat melakukan aktivitas belajar. Besarnya ruangan kelas tergantung pada jenis kegiatan dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan. Jika ruangan itu mempergunakan hiasan, maka hiasan yang bernilai pendidikan itu lebih diutamakan.
2) Pengaturan tempat duduk
Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka, dengan demikian guru dapat mengontrol tingkah laku siswa. Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar.
3) Ventilasi dan pengaturan cahaya
Suhu, ventilasi dan penerangan adalah asset penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
4) Pengaturan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tingggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa. Tentu saja masalah pemeliharaan juga sangat penting dan secara periodic harus dicek. Hal lainhya adalah pengamanan barang-barang tersebut. Baik dari pencurian maupun barang-barang yang mudah terbakar atau meledak.
b) Kondisi Sosio-Emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapaianya tujuan pengajaran. Kondisi sosio emosional meliputi:
1) Tipe kepemimpinan
Peranan guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara demokratis atau tidak, kesemuanya itu memberikan dampak kepada peserta didik.
2) Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan hangay sehingga ia insyaf akan kesalahannya. Berlakukan adil dalam bertindak. Ciptakan suatu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya.
3) Suara guru
Suara guru, walaupun bukan factor yang besar, turut mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. suara yang melengking tinggi atau malah terlalu rendah sehingga terdengar oleh siswa akan mengakibatkan suasana gaduh, bias jadi membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara hendaknya relative rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengaran rileks cenderung akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara hendaknya bervariasi agar tidak membosankan siswa.

4) Pembinaan hubungan baik
Pembinaan hubungan baik antara guru dan siswa dalam masalah pengelolaan kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistic, realistic dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya.

C. Aspek, Fungsi Dan Masalah Dalam Manajemen Kelas
1. Aspek Dalam Manajemen Kelas
Manajemen kelas harus dilakukan oleh guru guna memberikan dukungan terhadap keberhasilan belajar anak. Keberhasilan dalam pembelajaran akan ditentukan oleh seberapa mampu guru dalam memfasilitasi anak dengan kegiatan manajerial terhadap kelas, keberhasilan dalam “me-manage” kelas yang dilakukan guru harus melihat aspek dalam kelas. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas yang baik adalah meliputi sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan efektif dan kreatif.
2. Fungsi Manajemen Kelas
Fungsi manajemen kelas sebenarnya merupakan penerapan fungsi-fungsi manajemen yang diaplikasikan di dalam kelas oleh guru untuk mendukung tujuan pembelajaran yang hendak dicapainya. Dalam pelaksanaannya fungsi-fungsi manajemen tersebut harus disesuaikan dengan dasar filosofis dari pendidikan di dalam kelas. Fungsi manajerial di dalam kelas meliputi:
a. Merencanakan
Merencanakan adalah membuat suatu target-target yang akan dicapai atau diraih di masa depan. Dalam organisasi merencanakan adalah satu proses memikirkan dan menetapkan secara matang arah, tujuan dan tindakan sekaligus mengkaji sumber daya dan metode yang tepat.

b. Mengorganisasi
Mengorganisasikan itu berarti:
1) Menentukan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi.
2) Merancang dan mengembangkan kelompok kerja yang berisi orang yang mampu membawa organisasi pada tujuan.
3) Menugaskan seseorang dalam suatu tanggung jawab atau fungsi tertentu.
4) Mendelegasikan wewenang kepada seseorang.
c. Memimpin
d. Mengendalikan
Proses pengendalian dapat melibatkan beberapa elemen, yaitu:
1) Menetapkan standar kinerja
2) Mengukur kinerja
3) Membandingkan unjuk kerja dengan standarisasi
4) Mengambil tindakan korektif saat terdekteksi penyimpangan.
3. Masalah Dalam Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas yang dilakukan leh guru adalah upaya untuk memberikan pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan setiap potensi siswa, sehingga semua siswa dapat belajar dengan baik dan merasa terfasilitasi dari sisi perkembangan fisik dan psikisnya. Akan tetapi dalam penyelenggaraan pembelajaran di dalam kelas tidak selalu berlangsung dengan memuaskan sering muncul masalah. Masalah dapat kita tinjau dari bebagai sisi, sehingga guru dapat menjadi maklum bila perencanaan yang disusun sedemikian rupa akan tetapi masih muncul masalah dalam pelaksanaannya. Masalah dapat kita ligat dari sisi sifat masalah, jenis masalah dan sumber masalah.
a. Sifat Masalah
1) Perennial.
Perennial artinya bahwa masalah melekat, masalah akan selalu ada ketika terjadi proses interaksi. Ketika manusia berinteraksi alam sebuah kelompok terikat maka dengan segala perbedaan yang dimiliki dan keinginannya akan memungkinkan timbulnya gesekan dan konflik, hal ini memungkinkan karena memang demikian sifatnya.

2) Nurturing Effect
Naturant effect atau dampak pengiring artinya bahwa ketika dalam sebuah kegiatan muncul masalah dan masalah itu tidak dicarikan penyelesaiannya, maka hal tersebut akan memicu dampaklain sebagai pengikut dari permasalahan tersebut yang mungkin akan besar. Besar kecilnya akan bergantung kepada bobot dari permasalahan itu sendiri.
3) Substantive
Permasalahan dapat dipilah dan dilihat dari pokok/isu yang muncul, artinya bahwa permasalahan itu memiliki kekhasan sesuai dengan subtansi dari problematic dalam interaksi dalam interaksi yang terjadi. Dalam hal apa permasalahan itu muncul, itulah yang akan memberikan gambaran pada akhirnya untuk guru dalam mencarikan solusinya. Pemahaman terhadap subtansi akan mempermudah guru dalam menyelesaikannya.
4) Contextual
Proses interaksi orang terjadi dalam suatu setting siatuasi tertentu dengan corak yang beragam. Permasalahan muncul juga bisa diakibatkan oleh setting situasi tertentu, situasi amat mempengaruhi besar kecilnya masalah juga keterkaitan dengan masalah lainnya.
b. Jenis Masalah yang Muncul di Kelas
Berbagai masalah dapat muncul di dalam kelas, masalah bias berasal dari siswa, guru, kelas, situasi sekolah. Dilihat dari jenisnya masalah dalam kelas yang memungkinkan terganggunya proses belajar mengajar dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu masalah yang muncul secara individu, dan masalah yang muncul karena kelompok.
1) Masalah Individu
Masalah individu adalah segala permasalahan yang melekat pada perorangan baik karena aktivitasnya sebelum di kelas yaitu di rumah, di jalan dan di lingkungan sekolah sehingga muncul dkelas atau permasalahan yang muncul pada saat proses pembelajaran berlangsung karena interaksinya dengan siswa lain atau guru.
Masalah individu muncul bila terjadi stimulus yang tidak di harapkan dari sikap siswa lain atau dari sikap guru bahkan bisa datang dari materi belajar. Stimulus yang berlebihan dari guru terhadap siswapun akan memicu permasalahan.
2) Masalah kelompok
Masalah kelompok adalah masalah yang muncul karena kolektivitas siswa yang tidak teroganisir sehingga memunculkan kecemburuan atau ketidak setujuan yang tidak dikemukakan yang pada akhirnya akan menurunkan semangat belajar individu.
Permasalahan dalam kelompok terjadi karena kurang awasnya guru dalam menentukan kelompok atau stimulis yang diberikan guru tidak dapat memunculkan gairah dalam belajar secara keseluruhan.
c. Sumber Masalah
Secara garis besar masalah di dalam kelas bisa berasal dari rumah, dan dari lingkungan masyarakat dimana dia bergaul dan juga lingkungan sekolah.
1) Lingkungan rumah
Kondisi emosional siswa di kelas banyak akan dipengaruhi oleh pergaulannya di rumah. Kondisi rumah tempat dia tinggal, social dan ekonomi yang sedang dijalaninya akan mempengaruhi pola belajar dia di sekolah. Perhatian dan konsentrasi siswa akan terganggu oleh peristiwa di rumah, dimana secara peristiwa tersebut akan memberikan terhadap penguasaan emosi dan bobot emosional sehingga kurang siap dalam mengikuti pelajaran.
2) Lingkungan masyarakat
Pada saat tertentu ketika anak bergaul dalam masyarakat baik dengan teman sebayanya ataupun dengan yang lebih tua dan lebih muda, hal ini harus diwaspadai oleh guru karena peristiwa-peristiwa yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan dapat menyebabkan anak tidak dapat belajar dengan baik di dalam kelas. Peristiwa-peristiwa tersebut akan mempengaruhi konsentrasi dan kesiapan anak dalam belajar.
3) Lingkungan sekolah
Dalam lingkungan sekolah anak bergaul dengan berbagai tingkatan kelas, dengan kakak kelasnya atau dengan orang yang lebih dewasa seperti guru, penjaga sekolah, petugas tata usaha, kepala sekolah. Pergaulan yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut akan memberikan warna terhadap pola perilaku dan sikap dan kemungkinan akan terbawa sampai dalam kelas. Perilaku yang baik mungkin akan memberikan warna baik dalam sikap dan perilaku siswa, akan tetapi bila dalam pergaulan tersebut ada sikap dan perilaku yang di luar kepastiannya sesuai dengan umur dan tingkatan kelas maka kemungkinan akan memberikan masalah ketika masuk ke dalam kelas dan mengikuti proses belajar mengajar.
d. Pendekatan dalam melihat permasalahan di dalam kelas
Diantara pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan di dalam kelas antara lain sebagai berikut:
1) Culture
Culture/budaya, guru harus memahami disparitas culture heritage/budaya bawaan yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Dengan pemahaman terhadap budaya bawaan dari masing-masing siswa maka guru akan memahami dan mencari pendekatan yang cocok dengan gaya belajar masing-masing.
Budaya organsasi kelas yang dikembangkan harus mampu menfasilitasi keseluruhan budaya bawaan yang melekat pada siswa. Memahami budaya bawaan artinya guru akan mudah dalam menghadapi berbagai masalah yang melekat dan muncul pada siswa.
2) Commitmen
Komitmen adalah sebuah bentuk integrasi secara total dari seseorang terhadap sesuatu atau pekerjaan tertentu dengan melibatkan keseluruhan aspek diri. Dalam komitmen terdapat dua unsure pokok yaitu usaha dan waktu, artinya komitmen itu tidak terjadi karena kata-kata dan perbuatan sementara. Usaha artinya komitmen diperlihatkan dengan sejumlah usaha yang tinggi dari seseorang untuk melaksanakan pekerjaan dan mempertahankan kualitas dari pekerjaan tersebut. Waktu bahwa komitmen diukur oleh waktu yang dipergunakan oleh seseorang dalam memegang teguh amanah dengan tujuan yang hendak dicapai.
3) Communication
Benar atau salah, valid atau tidak validnya sesuatu akan diperoleh dengan melakukan komunikasi, dengan komunikasi dapat diperoleh sejumlah informasi berkaitan dengan permasalahan atau subtansi dari suatu peristiwa
Komunikasi memungkinkan guru dapat mengetahui dan memahami masalah yang sebenarnya dihadapi oleh anak, apakah permasalahan di kelas itu terjadi karena stimulus kelas dan penguhuni kelas atau permasalahan itu muncul karena sumber yang dibawa dari rumah atau lingkungan dimana anak bergau. Pada akhirnya akan mempermudah guru dalam menyelesaikan permasalahan tersebut dan menyelesaikan sampai ke akar masalahnya.

BAB III
KESIMPULAN

Dalam proses belajar mengajar di kelas, sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran ada hal yang harus dilakukan oleh guru yaitu mengelola kelas. Mengelola kelas adalah kegiatan mengatur sejumlah sumber daya yang ada di kelas sehingga data mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai secara efektif dan efisien. Kegiatan pengaturan sumber daya yang dilakukan di dalam kelas mencakup unsure manusia dan non manusia, kedua unsur tersebut memiliki kedudukan yang sama penting guna mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Manajemen kelas yang dilakukan guru bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran di dalam kelas sehingga produktivitas kelas tinggi dan mendukung kinerja guru.
Factor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam manajemen kelas meliputi kelas meliputi factor fisik, factor sosio-emosional yang terjadi dalam kelas. Factor-faktor tersebut saling terkait dan apabila salah satu diantaranya tidak diperhatikan maka akan memberikan pengaruh terhadap factor lainnya.
Permasalahan dapat muncul dalam kelas, oleh karena itu untuk dapat meminimalisir dan menetralisir permasalahan yang mungkin muncul dan sudah muncul, maka guru dituntut untuk memahami setiap aspek dalam manajemen kelas serta fungsi dari manajemen kelas itu sendiri, serta peran-peran yang harus dibawakan oleh guru di dalam kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Ronal H. Selecting and Developing Media For Intruction, Edisi Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994.
Dirjen POUD dan Dirjen Dikdasmen, Pengelolaan Kelas, Seri Peningkatan Mutu 2, Jakarta: Depdagri dan Depdikbud, 1996
Maman Rahman, Manajemen Kelas, Proyek Pendidikan Guru dan Sekolah. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud, 1999.
Raka Joni, dkk. Pengelolaan Kelas, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud, 1996.
Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2008.
Usman Uzer, Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s