Manajemen Kelas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh strategi pemblejaran yang dilakukan oleg guru. Guru dituntut memahami komponen-komponen dasar dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk paham tentang filosofis dan mengajar dan belajar itu sendiri. Mengajar tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, akan tetapi juga sejumlah perilaku yang akan menjadi kepemilikan siswa.
Pengaturan metode, strategi, dan kelengkapan dalam pengajaran adalah bagian dari kegiatan manajemen pembelajaran yan harus dilakukan oleh guru. Untuk mewujudkan manajemen kelas di sekolah, lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Manajemen kelas di sekolah tidak hanya pengaturan belajar, fasilitas fisik, dan rutinitas, tetapi menyiapkan kondisi kelas dan lingkungan sekolah agar tercipta kenyamanan dan suasana belajar yang efektif. Oleh karena itu, sekolah dan kelas perlu dikelola secara baik, dan menciptakan iklim belajar yang menunjang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis mengambil beberapa rumusan masalah, diantaranya:
1. Bagaimana konsep manajemen kelas?
2. Apa saja aspek, fungsi dan masalah dalam manajemen kelas?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui konsep manajemen kelas.
2. Untuk mengetahui aspek, fungsi dan masalah dalam manajemen kelas.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Manajemen Kelas
1. Pengertian Manajemen Kelas
Setiap ahli memberi pandangan yang berbeda tentang batasan manajemen, karena itu tidak mudah member arti universal yang dapat diterima semua orang. Namun demikian dari pikiran-pikiran ahli tentang definisi manajemen kebanyakan menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses tertentu yang menggunakan kemampuan atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang di dalam pelaksanaanya dapat mengikuti alur keilmuan secara ilmiah dan dapat pula menunjukkan kekhasan atau gaya manajer dalam mendayagunakan kemampuan orang lain.
Dengan demikian terdapat tiga focus untuk mengartikan manajamen, yaitu:
1. Manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang selanjutnya manjadi cikal bakal manajemen sebagai suatu profesi. Manajemen sebagai suatu ilmu menekankan perhatian pada keterampilan dan kemampuan manajerial yang diklasifikasikan menjadi kemampuan keterampilan teknikal, manusiawi, dan konseptual.
2. Manajemen sebagai proses yaitu dengan menentukan langkah yang sistematis dan terpadu sebagai aktifitas manajemen.
3. Manajemen sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan.
Dengan demikian manajemen merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain dalam upaya mencapai tujuan organisasi secara produktif, efektif, dan efisien.
Dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan pengaturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai.
Menurut Dirjen Dikdasmen yang menjadi tujuan manajemen kelas adalah:
1. Mewujudkan siatuasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan social, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
4. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang social, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
Manajemen kelas adalah rentetan kegiatan guru untuk menumbukan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif, yaitu meliputi; tujuan pengajaran, pengaturan waktu, pengaturan ruangan dan peralatan, dan pengelompokan siswa dalam belajar.
Menurut Raka Joni pengelolaan kelas adalah segala kegiatan guru di kelas yang menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar.
Sedangkan menurut M. Entang pengelolaan kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.

B. Kegiatan Manajemen Kelas
Kegiatan manajemen kelas (pengelolaan kelas) meliputi dua kegiatan yang secara garis besar terdiri dari:
1. Pengaturan Siswa
Siswa adalah orang yang melakukan aktifitas dan kegiatan di kelas yang ditempatkan sebagai objek dan karena perkembangan ilmu pengetahuan dan kesadaran manusia, maka siswa bergerak kemudian menduduki fungsi sebagai subyek. Artinya siswa bukan barang atau obyek yang hanya dikenai akan tetapi juga merupakan obyek yang memiliki potensi dan pilihan untuk bergerak. Pergerakan yang terjadi dalam konteks pencapaian tujuan tidak sembarang. Artinya dalam hal ini fungsi guru tetap memiliki proporsi yang besar untuk dapat membimbing, mengarahkan dan memandu setiap aktifitas yang harus dilakukan siswa. Oleh karena itu pengaturan orang atau siswa adalah bagaimana mengatur dan menempatkan siswa dalam kelas sesuai dengan potensi intelektual dan perkembangan emosionalnya. Siswa diberikan kesempatan untuk memperoleh posisi dalam belajar yang sesuai dengan minat dan keinginannya.

2. Pengaturan Fasilitas
Aktifitas dalam kelas baik guru maupun siswa dalam kelas kelangsungannya akan banyak dipengaruhi oleh kondisi dan situasi fisik lingkungan kelas. Oleh karena itu lingkungan fisik kelas berupa sarana dan prasarana kelas harus dapat memenuhi dan mendukung interaksi yang terjadi, sehingga harmonisasi kehidupan kelas dapat berlangsung dengan baik dari permulaan masa kegiatan belajar mengajar sampai akhir masa belajar mengajar. kriteria minimal meliputi aman, estetika, sehat, cukup, bermutu, dan nyaman, yang terpenting bahwa dengan fasilitas yang minim dapat diatur dengan baik sehingga daya gunanya lebih tinggi. Pengaturan fasilitas adalah kegiatan yang harus dilakukan siswa sehingga seluruh siswa dapat terfasilitasi dalam aktifitasnya di dalam kelas. Pengaturan fisik kelas diarahkan untuk meningkatkan efektifitas belajar siswa sehingga siswa merasa senang, nyaman, aman dan belajar dengan baik.
Adapun kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen kelas yang tertuang dalam petunjuk pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:
a) Mengecek kehadiran siswa. Siswa dilihat keberadaannya satu persatu terutama diarahkan untuk melihat kesiapannya dalam mengikuti proses belajar mengajar, kesiapan secara fisik terutama mental karena dengan perhatian dari awal akan memberikan dorongan kepada mereka untuk dapat mengikuti kegiatan dalam kelas dengan baik.
b) Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil pekerjaan tersebut. Pekerjaan yang sudah diberikan hendaknya dengan cepat dikumpulkan dan diberikan komentar singkat sehingga rasa penghargaan yang tinggi dapat memberikan motivasi atas kerja yang sudah dilakukan.
c) Pendistribusian bahan dan alat. Apabila ada alat dan bahan belajar yang harus didistribusikan maka secara adil dan proporsional setiap siswa memperoleh kesempatan untuk melakukan praktik atau menggunakan alat dan bahan dalam proses belajarnya.
d) Mengumpulkan informasi dari siswa. Banyak informasi yang berguna bagi guru dan bagi siswa itu sendiri yang dapat diperoleh dari sswa baik yang berupa informasi tentang pribadi siswa maupun berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan siswa yang harus dan sudah dikerjakan.
e) Mencatat data. Data-data siswa baik secara perorangan maupun kelompok yang menyangkut individu maupun pekerjaan sangat penting untuk dicatat karena akan mendukung guru dalam memberikan evaluasi akhir terhadap pencapaian hasil pekerjaan siswa.
f) Pemeliharaan arsip. Arsip-arsip tentang kegiatan dalam kelas disimpan dan ditata dengan rapi dan dipelihara sebagai tanggungjawab bersama sehingga dapat memberikan informasi baik bagi guru maupun bagi siswa.
g) Menyampaikan materi pembelajaran. Tugas utama guru adalah memberikan informasi tentang bahan belajar yang harus dilakukan siswa dengan teratur dan dapat menggunakan berbagai media dan informasi yang ada dalam kelas.
h) Memberikan tugas/PR. Penugasan adalah proses memberikan tanggungjawab kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara mandiri dan dapat mengevaluasi kemampuan secara sendiri.
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan para guru, khususnya guru dalam pertemuan dengan siswa di dalam kelas menurut Dirjen POUD dan Dirjen Dikdasmen adalah:
a) Ketika bertemu dengan siswa, guru harus;
– Bersikap tenang dan percaya diri
– Tidak menunjukkan rasa cemas, muka masam atau sikap tidak simpatik
– Memberikan salam
b) Guru memberikan tugas kepada siswa dengan tertib dan lancar.
c) Mengatur tempat duduk siswa dengan tertib dan lancar
d) Menentukan tata cara berbicara dan tanya jawab
e) Bertindak disiplin baik terhadap siswa maupun diri sendiri.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Kelas
Berhasilnya manajemen kelas dalam memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai, banyak dipengaruhi oleh berbagai factor. Faktor-faktor tersebut melekat pada kondisi fisik kelas dan pendukungnya, juga dipengaruhi oleh faktor non fisik (sosio-emosional) yang melekat pada guru. Untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang baik, ada beberapa factor yang mempengaruhi antara lain:
a) Kondisi Fisik
Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatkanya intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Lingkungan fisik yang dimaksudkan meliputi:
1) Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
Ruangan tempat belajar harus memungkinkan semua siswa bergerak leluasa, tidak berdesak-desakan dan tidak mengganggu antara siswa yang satu dengan lainnya pada saat melakukan aktivitas belajar. Besarnya ruangan kelas tergantung pada jenis kegiatan dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan. Jika ruangan itu mempergunakan hiasan, maka hiasan yang bernilai pendidikan itu lebih diutamakan.
2) Pengaturan tempat duduk
Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka, dengan demikian guru dapat mengontrol tingkah laku siswa. Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar.
3) Ventilasi dan pengaturan cahaya
Suhu, ventilasi dan penerangan adalah asset penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
4) Pengaturan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tingggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa. Tentu saja masalah pemeliharaan juga sangat penting dan secara periodic harus dicek. Hal lainhya adalah pengamanan barang-barang tersebut. Baik dari pencurian maupun barang-barang yang mudah terbakar atau meledak.
b) Kondisi Sosio-Emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapaianya tujuan pengajaran. Kondisi sosio emosional meliputi:
1) Tipe kepemimpinan
Peranan guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara demokratis atau tidak, kesemuanya itu memberikan dampak kepada peserta didik.
2) Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan hangay sehingga ia insyaf akan kesalahannya. Berlakukan adil dalam bertindak. Ciptakan suatu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya.
3) Suara guru
Suara guru, walaupun bukan factor yang besar, turut mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. suara yang melengking tinggi atau malah terlalu rendah sehingga terdengar oleh siswa akan mengakibatkan suasana gaduh, bias jadi membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara hendaknya relative rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengaran rileks cenderung akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara hendaknya bervariasi agar tidak membosankan siswa.

4) Pembinaan hubungan baik
Pembinaan hubungan baik antara guru dan siswa dalam masalah pengelolaan kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistic, realistic dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya.

C. Aspek, Fungsi Dan Masalah Dalam Manajemen Kelas
1. Aspek Dalam Manajemen Kelas
Manajemen kelas harus dilakukan oleh guru guna memberikan dukungan terhadap keberhasilan belajar anak. Keberhasilan dalam pembelajaran akan ditentukan oleh seberapa mampu guru dalam memfasilitasi anak dengan kegiatan manajerial terhadap kelas, keberhasilan dalam “me-manage” kelas yang dilakukan guru harus melihat aspek dalam kelas. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas yang baik adalah meliputi sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan efektif dan kreatif.
2. Fungsi Manajemen Kelas
Fungsi manajemen kelas sebenarnya merupakan penerapan fungsi-fungsi manajemen yang diaplikasikan di dalam kelas oleh guru untuk mendukung tujuan pembelajaran yang hendak dicapainya. Dalam pelaksanaannya fungsi-fungsi manajemen tersebut harus disesuaikan dengan dasar filosofis dari pendidikan di dalam kelas. Fungsi manajerial di dalam kelas meliputi:
a. Merencanakan
Merencanakan adalah membuat suatu target-target yang akan dicapai atau diraih di masa depan. Dalam organisasi merencanakan adalah satu proses memikirkan dan menetapkan secara matang arah, tujuan dan tindakan sekaligus mengkaji sumber daya dan metode yang tepat.

b. Mengorganisasi
Mengorganisasikan itu berarti:
1) Menentukan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi.
2) Merancang dan mengembangkan kelompok kerja yang berisi orang yang mampu membawa organisasi pada tujuan.
3) Menugaskan seseorang dalam suatu tanggung jawab atau fungsi tertentu.
4) Mendelegasikan wewenang kepada seseorang.
c. Memimpin
d. Mengendalikan
Proses pengendalian dapat melibatkan beberapa elemen, yaitu:
1) Menetapkan standar kinerja
2) Mengukur kinerja
3) Membandingkan unjuk kerja dengan standarisasi
4) Mengambil tindakan korektif saat terdekteksi penyimpangan.
3. Masalah Dalam Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas yang dilakukan leh guru adalah upaya untuk memberikan pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan setiap potensi siswa, sehingga semua siswa dapat belajar dengan baik dan merasa terfasilitasi dari sisi perkembangan fisik dan psikisnya. Akan tetapi dalam penyelenggaraan pembelajaran di dalam kelas tidak selalu berlangsung dengan memuaskan sering muncul masalah. Masalah dapat kita tinjau dari bebagai sisi, sehingga guru dapat menjadi maklum bila perencanaan yang disusun sedemikian rupa akan tetapi masih muncul masalah dalam pelaksanaannya. Masalah dapat kita ligat dari sisi sifat masalah, jenis masalah dan sumber masalah.
a. Sifat Masalah
1) Perennial.
Perennial artinya bahwa masalah melekat, masalah akan selalu ada ketika terjadi proses interaksi. Ketika manusia berinteraksi alam sebuah kelompok terikat maka dengan segala perbedaan yang dimiliki dan keinginannya akan memungkinkan timbulnya gesekan dan konflik, hal ini memungkinkan karena memang demikian sifatnya.

2) Nurturing Effect
Naturant effect atau dampak pengiring artinya bahwa ketika dalam sebuah kegiatan muncul masalah dan masalah itu tidak dicarikan penyelesaiannya, maka hal tersebut akan memicu dampaklain sebagai pengikut dari permasalahan tersebut yang mungkin akan besar. Besar kecilnya akan bergantung kepada bobot dari permasalahan itu sendiri.
3) Substantive
Permasalahan dapat dipilah dan dilihat dari pokok/isu yang muncul, artinya bahwa permasalahan itu memiliki kekhasan sesuai dengan subtansi dari problematic dalam interaksi dalam interaksi yang terjadi. Dalam hal apa permasalahan itu muncul, itulah yang akan memberikan gambaran pada akhirnya untuk guru dalam mencarikan solusinya. Pemahaman terhadap subtansi akan mempermudah guru dalam menyelesaikannya.
4) Contextual
Proses interaksi orang terjadi dalam suatu setting siatuasi tertentu dengan corak yang beragam. Permasalahan muncul juga bisa diakibatkan oleh setting situasi tertentu, situasi amat mempengaruhi besar kecilnya masalah juga keterkaitan dengan masalah lainnya.
b. Jenis Masalah yang Muncul di Kelas
Berbagai masalah dapat muncul di dalam kelas, masalah bias berasal dari siswa, guru, kelas, situasi sekolah. Dilihat dari jenisnya masalah dalam kelas yang memungkinkan terganggunya proses belajar mengajar dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu masalah yang muncul secara individu, dan masalah yang muncul karena kelompok.
1) Masalah Individu
Masalah individu adalah segala permasalahan yang melekat pada perorangan baik karena aktivitasnya sebelum di kelas yaitu di rumah, di jalan dan di lingkungan sekolah sehingga muncul dkelas atau permasalahan yang muncul pada saat proses pembelajaran berlangsung karena interaksinya dengan siswa lain atau guru.
Masalah individu muncul bila terjadi stimulus yang tidak di harapkan dari sikap siswa lain atau dari sikap guru bahkan bisa datang dari materi belajar. Stimulus yang berlebihan dari guru terhadap siswapun akan memicu permasalahan.
2) Masalah kelompok
Masalah kelompok adalah masalah yang muncul karena kolektivitas siswa yang tidak teroganisir sehingga memunculkan kecemburuan atau ketidak setujuan yang tidak dikemukakan yang pada akhirnya akan menurunkan semangat belajar individu.
Permasalahan dalam kelompok terjadi karena kurang awasnya guru dalam menentukan kelompok atau stimulis yang diberikan guru tidak dapat memunculkan gairah dalam belajar secara keseluruhan.
c. Sumber Masalah
Secara garis besar masalah di dalam kelas bisa berasal dari rumah, dan dari lingkungan masyarakat dimana dia bergaul dan juga lingkungan sekolah.
1) Lingkungan rumah
Kondisi emosional siswa di kelas banyak akan dipengaruhi oleh pergaulannya di rumah. Kondisi rumah tempat dia tinggal, social dan ekonomi yang sedang dijalaninya akan mempengaruhi pola belajar dia di sekolah. Perhatian dan konsentrasi siswa akan terganggu oleh peristiwa di rumah, dimana secara peristiwa tersebut akan memberikan terhadap penguasaan emosi dan bobot emosional sehingga kurang siap dalam mengikuti pelajaran.
2) Lingkungan masyarakat
Pada saat tertentu ketika anak bergaul dalam masyarakat baik dengan teman sebayanya ataupun dengan yang lebih tua dan lebih muda, hal ini harus diwaspadai oleh guru karena peristiwa-peristiwa yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan dapat menyebabkan anak tidak dapat belajar dengan baik di dalam kelas. Peristiwa-peristiwa tersebut akan mempengaruhi konsentrasi dan kesiapan anak dalam belajar.
3) Lingkungan sekolah
Dalam lingkungan sekolah anak bergaul dengan berbagai tingkatan kelas, dengan kakak kelasnya atau dengan orang yang lebih dewasa seperti guru, penjaga sekolah, petugas tata usaha, kepala sekolah. Pergaulan yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut akan memberikan warna terhadap pola perilaku dan sikap dan kemungkinan akan terbawa sampai dalam kelas. Perilaku yang baik mungkin akan memberikan warna baik dalam sikap dan perilaku siswa, akan tetapi bila dalam pergaulan tersebut ada sikap dan perilaku yang di luar kepastiannya sesuai dengan umur dan tingkatan kelas maka kemungkinan akan memberikan masalah ketika masuk ke dalam kelas dan mengikuti proses belajar mengajar.
d. Pendekatan dalam melihat permasalahan di dalam kelas
Diantara pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan di dalam kelas antara lain sebagai berikut:
1) Culture
Culture/budaya, guru harus memahami disparitas culture heritage/budaya bawaan yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Dengan pemahaman terhadap budaya bawaan dari masing-masing siswa maka guru akan memahami dan mencari pendekatan yang cocok dengan gaya belajar masing-masing.
Budaya organsasi kelas yang dikembangkan harus mampu menfasilitasi keseluruhan budaya bawaan yang melekat pada siswa. Memahami budaya bawaan artinya guru akan mudah dalam menghadapi berbagai masalah yang melekat dan muncul pada siswa.
2) Commitmen
Komitmen adalah sebuah bentuk integrasi secara total dari seseorang terhadap sesuatu atau pekerjaan tertentu dengan melibatkan keseluruhan aspek diri. Dalam komitmen terdapat dua unsure pokok yaitu usaha dan waktu, artinya komitmen itu tidak terjadi karena kata-kata dan perbuatan sementara. Usaha artinya komitmen diperlihatkan dengan sejumlah usaha yang tinggi dari seseorang untuk melaksanakan pekerjaan dan mempertahankan kualitas dari pekerjaan tersebut. Waktu bahwa komitmen diukur oleh waktu yang dipergunakan oleh seseorang dalam memegang teguh amanah dengan tujuan yang hendak dicapai.
3) Communication
Benar atau salah, valid atau tidak validnya sesuatu akan diperoleh dengan melakukan komunikasi, dengan komunikasi dapat diperoleh sejumlah informasi berkaitan dengan permasalahan atau subtansi dari suatu peristiwa
Komunikasi memungkinkan guru dapat mengetahui dan memahami masalah yang sebenarnya dihadapi oleh anak, apakah permasalahan di kelas itu terjadi karena stimulus kelas dan penguhuni kelas atau permasalahan itu muncul karena sumber yang dibawa dari rumah atau lingkungan dimana anak bergau. Pada akhirnya akan mempermudah guru dalam menyelesaikan permasalahan tersebut dan menyelesaikan sampai ke akar masalahnya.

BAB III
KESIMPULAN

Dalam proses belajar mengajar di kelas, sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran ada hal yang harus dilakukan oleh guru yaitu mengelola kelas. Mengelola kelas adalah kegiatan mengatur sejumlah sumber daya yang ada di kelas sehingga data mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai secara efektif dan efisien. Kegiatan pengaturan sumber daya yang dilakukan di dalam kelas mencakup unsure manusia dan non manusia, kedua unsur tersebut memiliki kedudukan yang sama penting guna mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Manajemen kelas yang dilakukan guru bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran di dalam kelas sehingga produktivitas kelas tinggi dan mendukung kinerja guru.
Factor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam manajemen kelas meliputi kelas meliputi factor fisik, factor sosio-emosional yang terjadi dalam kelas. Factor-faktor tersebut saling terkait dan apabila salah satu diantaranya tidak diperhatikan maka akan memberikan pengaruh terhadap factor lainnya.
Permasalahan dapat muncul dalam kelas, oleh karena itu untuk dapat meminimalisir dan menetralisir permasalahan yang mungkin muncul dan sudah muncul, maka guru dituntut untuk memahami setiap aspek dalam manajemen kelas serta fungsi dari manajemen kelas itu sendiri, serta peran-peran yang harus dibawakan oleh guru di dalam kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Ronal H. Selecting and Developing Media For Intruction, Edisi Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994.
Dirjen POUD dan Dirjen Dikdasmen, Pengelolaan Kelas, Seri Peningkatan Mutu 2, Jakarta: Depdagri dan Depdikbud, 1996
Maman Rahman, Manajemen Kelas, Proyek Pendidikan Guru dan Sekolah. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud, 1999.
Raka Joni, dkk. Pengelolaan Kelas, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud, 1996.
Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2008.
Usman Uzer, Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.

MURABITHUN DAN MUWAHHIDUN

MURABITHUN DAN MUWAHHIDUN

(Negara Agama dan Jatuhnya Bangunnya Islam di Afrika)

 

MAKALAH INI DITULIS UNTUK MEMENUHI TUGAS

MATA KULIAH “SEJARAH PERADABAN ISLAM”

DOSEN:

Prof. Dr. H. Ali Mufrodi, MA.

Dr. M. Taufiqurrahman, M. Ag.

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

LYANA DEWI SOLIKHAH

NIM: 921.003.12.020

 

PROGRAM PASCASARJANA

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

STAIN KEDIRI

TAHUN AKADEMIK 2012/2013

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Belakang

Islam masuk ke Andalusia diperkirakan pada tahun 711 M pada masa pemerintahan khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Setelah orang Islam bisa menjatuhkan Andalusia ke tangannya, maka mereka memperluas daerah kekuasaannya dan mendirikan dinasti yang pertama kali ada di Andalusia yaitu dinasti bani Umayyah yang didirikan oleh Abdul Aziz bin Musa Nusair (95-97 H/ 715-717 M), sehingga negara-negara Islam sangatlah luas dan mencapai kemajuan.

Setelah masa keemasan bani Umayyah semakin surut, maka kekuasaan Islam di Andalusia diteruskan oleh dinasti Murabithun, Muwahhidun dan Bani Ahmar. Pada masa ini Islam maju dan berkembang serta terus memperluas wilayah kekuasaannya hingga akhirnya umat Islam mengalami masa kehancuran, Andalusia hanya tinggal sejarah pada waktu itu.

Pada pembahasan kali ini kami akan membahas dinasti Murahbithun dan Muwahhidun. Dinasti tersebut mempunyai wilayah yang luas dan memberikan sumbangan yang tak sedikit bagi pengetahuan dan perkembangan Islam serta kelak mampu menguasai Andalusia di mana saat itu Andalusia sedang dalam perpecahan dan dikuasai oleh raja-raja kecil (Muluk al-Tawaif) yang beragama Islam tapi membayar upeti kepada kerajaan Kristen yang didukung oleh Romawi. Meskipun nanti pada akhirnya Andalusia lepas dari kekuasaan pemerintahan Islam dan diporak-porandakan oleh pasukan Kristen.

 

 

 

 

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, kita dapat menentukan rumusan masalahnya, yaitu:

  1. Bagaimana asal mula berdirinya dinasti Murabithun dan Muwahhidun di Andalusia?
  2. Bagaimana perkembangan yang dicapai oleh dinasti Murabithun dan Muwahhidun di Andalusia?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

  1. A.    Asal Mula Berdirinya Dinasti Murabithun dan Muwahhidun
    1. 1.      Dinasti Murabithun

Murabithun atau Al-Murawiyah (448-541/1056-1147), merupakan salah satu Dinasti Islam yang berkuasa di Maghrib. Nama Al-Murabithun berkaitan dengan nama tempat tinggal mereka (ribath).[1] Murabithun (ribath) sejenis benteng pertahanan Islam yang berada di sekitar masjid. Masjid mempunyai multifungsi sebagai tempat ibadah, penyebaran dakwah sekaligus sebagai benteng pertahanan. Anggota pertamanya berasal dari Lamtuna bagian dari suku Sanhaja yang suka mengembara di padang Sahara.[2] Salah satu kebiasaan mereka menggunakan cadar yang menutupi wajah di bawah mata, kebiasaan ini dinamakan Mulatstsamun (para pemakai cadar) yang kadang-kadang menjadi sebutan lain bagi kaum Murabithun.

Ibu kota al-Murabithun ialah Marakesy yang didirikan oleh pemimpin mereka yang kedua, Yusuf ibn Tasyfin, 454/ 1062. Mereka juga berjasa mengIslamkan penduduk pantai barat Afrika, dan melintasi Sahara hingga ke Sudan di timur benua Afrika itu. Mereka mengakui khilafah Abbasiyah dan menganut mazhab Maliki yang tersebar luas di Afrika Utara. Akhirnya, al-Murabithun ditundukkan oleh al-Muwahhidun yang telah menguat di Afrika Utara.[3]

Pada abad ke sebelas pemimpin Sanhaja, Yahya bin Ibrahim, melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Dan sekembalinya dari Arabia, ia mengundang Abdullah bin Yasin seorang alim terkenal di Maroko, untuk membina kaumnya dengan keagamaan yang baik, kemudian beliau dibantu oleh Yahya bin Umar dan saudaranya Abu Bakar bin Umar. Perkumpulan ini berkembang dengan cepat, sehingga dapat menghimpun sekitar 1000 orang pengikut.

Di bawah pimpinan Abdullah bin Yasin dan komando militer Yahya bin Umar mereka berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Wadi Dara, dan kerajaan Sijil Mast yang dikuasai oleh Mas’ud bin Wanuddin. Ketika Yahya bin Umar meninggal dunia, jabatannya diganti oleh saudaranya, Abu Bakar bin Umar, kemudian ia menaklukkan daerah Sahara Maroko. Setelah diadakan penyerangan ke Maroko tengah dan selatan selanjutnya menyerang suku Barghawata yang menganut paham bid’ah. Dalam penyerangan ini Abdullah bin Yasin wafat (1059 M). Sejak saat itu Abu Bakar memegang kekuasaan secara penuh dan ia berhasil mengembangkannya.

Abu Bakar berhasil menaklukkan daerah Utara Atlas Tinggi dan akhirnya dapat menduduki daerah Marakesy (Maroko). Kemudian ia mendapat berita bahwa Buluguan, Raja Kala dari Bani Hammad mengadakan penyerangan ke Maghrib dengan melibatkan kaum Sanhaja. Mendengar berita itu ia kembali ke Sanhaja untuk menegakkan perdamaian. Setelah berhasil memadamkan, ia menyerahkan kekuasaanya kepada Yusuf bin Tasyfin pada tahun 1061.

Pada tahun 1062 M, Yusuf bin Tasyfin mendirikan ibu kota di Maroko. Dia berhasil menaklukkan Fez (1070 M) dan Tangier (1078 M). Pada tahun 1080-1082 M, ia berhasil meluaskan wilayah sampai ke Al-Jazair. Dia mengangkat para pejabat Al-Murabithun untuk menduduki jabatan Gubernur pada wilayah taklukannya, sementara ia memerintah di Maroko. Yusuf bin Tasfin meninggalkan Afrika pada tahun 1086 M dan memperoleh kemenangan besar atas Alfonso VI (Raja Castile Leon), dan Yusuf bin Tasfin mendapat dukungan dari Muluk At-Thawa’if dalam pertempuran di Zallaqah. Ketika Yusuf bin Tasfin meninggal dunia, ia mewariskan kepada anaknya, Abu Yusuf bin Tasyfin. Warisan itu berupa kerajaan yang luas dan besar terdiri dari negeri-negeri Maghrib, bagian Afrika dan Spanyol. Ali ibn Yusuf melanjutkan politik pendahulunya dan berhasil mengalahkan anak Alfonso VI (1108 M). Kemudian ia ke Andalusia merampas Talavera Dela Rein.

Lambat laun Dinasti Al- Murabithun mengalami kemunduran dalam memperluas wilayah. Kemudian Ali mengalami kekalahan pertempuran di Cuhera (1129 M). kemudian ia mengangkat anaknya Tasyfin bin Ali menjadi Gubernur Granada dan Almeria. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menguatkan moral kaum Murabithun untuk mempertahankan serangan dari raja Alfonso VII. Masa terakhir Dinasti Al-Murabithun tatkala dikalahkan oleh Dinasti Muwahhidun yang dipimpin oleh Abdul Mun’im. Dinasti Muwahhidun menaklukkan Maroko pada tahun 1146-1147 M yang ditandai dengan terbunuhnya penguasa Al-Murabithun yang terakhir, Ishak bin Ali.

Dinasti Al- Murabithun memegang kekuasan selama 90 tahun, dengan enam orang penguasa yaitu: Abu Bakar bin Umar, Yusuf bin Tasyfin, Ali bin Yusuf, Tasyfin bin Ali, Ibrahim bin Tasfin, Ishak bin Ali. Penguasa-penguasa di Afrika Utara ini menjadi pendukung para penulis, filosofis, para penyair, dan arsitektur bangsa Spanyol. Masjid agung di Themsen dibangun tahun 1136. Memperbaiki masjid Qairuwan menurut desain Spanyol, dan membangun kota Maroko menjadi ibu kota kerajaan dan pusat keagamaan. Daulah Murabithun inilah yang pertama membuat dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amirul Mukminin dibagian depan mencontoh uang Abbasiyah dan bertuliskan kalimat iman dibagian belakang. Pembuatan uang ini dicontoh oleh Alfonso VIII dengan kalimat Amir al-Qatuliqun (Pemimpin Katolik) di bagian depan dan Amam al-Bi’ah Almasihiyah (pemimpin gereja Kristen) pada bagian belakang.[4]

  1. 2.      Dinasti Muwahhidun

Sama halnya dengan dinasti Murabithun yang memulai propagandanya dibidang keagamaan. Atau setidak-tidaknya menjadikan agama sebagai dasar gerakan tersebut. Pelopor dan sekaligus sebagai pendiri adalah Muhammad ibn Tumart yang lahir di Atlas tahun 1082 M.[5] Dia berasal dari suku Masmudah pegunungan Atlas Maroko. Dia merupakan seorang pengelana yang haus ilmu pengetahuan. Dia belajar dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari Cordoba, Alexandaria, Mekkah dan akhirnya di Baghdad.

Setelah kembali dari perantauannya di Maroko, Ibn Tumart mulai mengadakan propaganda pembaruan terhadap tradisi Islam yang dogmatis kepada pentauhidan yang murni dan tegas. Sebutan yang diberikan kepada pengikutnya adalah al-Muwahhidun yang berarti Penegak KeEsaan Tuhan. Dalam bidang teologi ia berpaham al Asy‘ariyah, sedangkan dalam bidang tasawuf ia memilih paham yang dikembangkan oleh imam al-Ghazali, dan bidang Fiqh dia menganut madzhab Maliki. Ibn Tumart sangat keras dan terkadang kasar dalam menanamkan moral dan kepercayaan agama, ia pernah memukul saudara perempuan dari gubernur dinasti Murabithun di kota Fez karena tidak mengenakan kerudung.

Gerakan Muwahhidun semakin lama semakin banyak pengikutnya di Aghmat. Ibn Tumart berhasil memikat suku Barber Atlas. Suku itu sebelumya sudah memeluk agama Islam tapi sangat minim pengetahuan terhadap Islam. Dari gerakan keagamaan kemudian berubah menjadi gerakan politik, dan para pengikutnya menyebutnya sebagai Imam Mahdi. Gerakan ini semakin sukses karena dibantu oleh Abdul Muin, orang yang ahli dalam hal strategi dan militer. Di kota Tin Malal (Tinmal) mendirikan masjid sebagai pusat pengajaran dan propagannya, dan di kota ini pada tahun 1121 M dijadikan sebagai ibu kota pertama al Muwahhidun.[6]

Setelah Ibn Tumart meninggal dunia tahun 1130 gerakan ini dipimpin oleh Abdul Mu’min yang kemudian menggunakan gelar khalifah bagi dirinya. Dia berhasil menaklukan, mengusai kerajaan Hammiyah di Bejaya, Ziridiyah di Ifriqiyah, Teluk Sidra, dinasti Murabithun dan ibu kotanya Marrakesh (Maroko) Afrika Utara pada tahun 1147, Padang Pasir Libya 1149. Pada tahun 1170 dia melakukan ekspansi ke Spanyol dan berhasil menguasainya. Kemudian dia menjadikan Sevillle sebagai ibu kota Dinasti Muwahhidun.

 

  1. B.     Perkembangan yang Dicapai oleh Dinasti Murabithun dan Muwahhidun di Andalusia.
    1. 1.      Kemajuan dan Kemunduran Dinasti Murabithun
      1. Kemajuan

Dinasti Murabithun memegang kekuasaan selama 90 tahun dengan enam orang penguasa yang telah disebutkan di atas. Murabithun memegang peran penting mempersatukan bangsa Barber dalam satu kesatuan. Dinasti Murabithun banyak mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan arsitektur bangunan masjid.

Dinasti inilah yang pertama membuat dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amir al-Mu’minin dibagian depan mencontoh uang Abbasiyah dan bertuliskan kalimat iman di bagian belakang.

Terkait dengan ekonomi, di bawah kekuasaan Yusuf ibn Tasyfin berkembang dengan pesat. Ia dapat mengumpulkan penghasilan untuk negara sebesar 120.000 pound emas. Ia juga menghapus pajak karena tidak ada perintah dalam Al-Qur’an, dan kehidupan amat murah dan bersahaja sedang masyarakat menikmati kedamaian. Kehadiran agama Kristen dan Yahudi sedikit sulit namun mereka menikmati kebebasan beragama, tapi tidak boleh mendirikan gereja atau sinagong. Kebebasan berpikir pada zamannya dihalang-halangi, mereka menentang teologi dan sufisme. Dinasti Murabithun merupakan dinasti Sunni dengan mazdhab hukumnya Maliki. Namun dalam soal dekorasi bentuk puisi populer dan lagu berkembang.[7]

  1. Kemunduran

Dinasti Murabithun mengalami kemunduran dan kehancuran pada tahun 541 H/ 1147 M. Sebab-sebab kehancuran mulai terasa ketika Ali, anak Yusuf menduduki jabatan Amir, karena tidak secakap ayahnya ia banyak menggunakan waktunya untuk beribadah, didominasi istrinya. Hal ini membuat masyarakat tidak bergembira, bangsawan berebut kekuasaan, tentaranya ceroboh, orang kaya Barber mengikuti jalan setan.[8]

Adapun secara terperinci, diantara faktor-faktor penyebab runtuhnya pemerintahan dinasti Murabithun adalah:

1)      Lemahnya disiplin tentara dan merajalelanya korupsi yang melahirkan disintegrasi.

2)      Berubahnya watak keras pembawaan Barber menjadi lemah ketika memasuki kehidupan Maroko di Andalusia yang mewah.

3)      Mereka memasuki Andalusia ketika kecemerlangan intelektual kalangan Arab telah mengganti kesenangan berperang.

4)      Kontak dengan peradaban sedang menurun dan tidak siap mengadakan asimilasi.

5)      Dikalahkan oleh dinasti dari rumpun keluarganya sendiri, yaitu al-Muwahhidun.

Sedangkan menurut Abdul Hamid, sebagaimana yang dikutip oleh Taufiqurrahman, kehancuran Murabithun disebabkan juga diantaranya karena: 1) Ketidaksukaan sekelompok kalangan terdidik dari Andalusia terhadap pemerintahan Murabithun yang dianggap keras, bodoh, tidak bisa memahami sastra budaya, menolak filsafat dan kalam dan hanya mengagungkan fiqih dan tafsir. Sifat inilah yang menyulut kebencian orang-orang Andalusia; 2) Murabithun tidak bisa mempertahankan sikap keberanian, kekuatan, dan kefanatikan pada agama. Hal ini dapat dilihat setelah 20 tahun menguasai Andalusia mereka menjadi pemalas, pemabuk, pemuas hawa nafsu, perampok dan pencuri dan penguasanya bergelimang dengan kecantikan wanita.[9]

  1. 2.      Kemajuan dan Kemunduran Dinasti Muwahhidun
    1. a.      Kemajuan

Pada masa Muwahhidun, Spanyol mencapai puncak kejayaannya, terutama pada Zaman Mu’min, perkembangan peradaban Islam, terutama pengembangan ilmu politik dan ekonomi.[10]

1)      Dalam Bidang politik, dinasti Muwahhidun telah mampu menguasai wilayah kepulauan Atlantik sampai ke daerah teluk Gebes di Mesir dan Andalusia.

2)      Dalam bidang ekonomi, dinasti Muwahhidun telah berhasil menjalin hubungan perdagangan dengan beberapa daerah di Italia, seperti perjanjian perdagangan dengan Pisa pada tahun 1154 M, Marseie, Voince, dan Sycilia  pada tahun 1157 M yang  berisi ketentuan tentang perdagangan, izin mendirikan gudang, kantor, loji dan bentuk-bentuk pemungutan pajak.

3)      Dalam bidang arsitektur, dinasti Muwahhidun banyak menghasilkan karya-karya dalam bentuk monumen, seperti Giralda, menara pada masjid Jami’ Sevilla, Bab Aquwnaou, dan Al-Kutubiyah, menara yang sangat megah di Marakiyah serta menara Hasan di Rabbath.

4)      Dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat, banyak ilmuwan yang muncul pada masa dinasti Muwahhidun ini terutama pada masa kepemimpinan Abdul Mu’min dan Abu Yakub Yusuf adalah sebagai berikut :

a)      Ibrahim bin Malik bin Mulkun adalah seorang pakar al-Qur’an dan ilmu Nahwu.

b)      Al-Hafidz Abu Bakrbin al-Jad seorang ahli fikih, dan Ibnu al-Zuhr ahli kedokteran.

c)      Ibn Bajjah (533H/1139 M), seorang filosof dengan karyanya The Rule of Solitary. Ia juga ahli di bidang musik yang disebut Avenpace atau Abenpace.

d)     Ibnu Thufail (581 H/1105-1185 M), seorang filosof dengan karyanya Hayy bin Yaqzhan. Ia juga dikenal sebagai seorang dokter, ahli geografi dan juga dianggap sebagai penyair Andalusia atau yang dikenal dengan nama Al-Andalusi, Al-Kurtubi, atau Al-Isibily.

e)      Ibnu Rusyd (1126-1198 M), ia adalah seorang filosof, dokter, ahli matematika, fikih, ahli hukum, ahli astronomi atau dikenal dengan sebutan Averrous/ Averroisme di Barat.

  1. b.      Kemunduran

Setelah mengalami kekalahan selama satu abad (113-1169 M), Dinasti Muwahhidun mengalami kemunduran dan akhirnya hancur. Kemunduran ini terasa setelah an-Nashir wafat yang selanjutnya dipimpin oleh pimpinan yang lemah. Adapun faktor kemunduran dinasti Muwahhidun ini disebabkan oleh:[11]

1)      Perebutan tahta dikalangan keluarga.

2)      Melemahnya kontrol terhadap penguasa daerah.

3)      Mengendurnya tradisi disiplin.

4)      Memudarnya keyakinan akan keagungan misi al-Mahdi bin Tumart, bahkan namanya tidak disebut lagi dalam dokumen Negara.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

  1. Asal mula berdirinya dinasti Murabithun dan Muwahhidun

Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama di Afrika Utara yang didirikan oleh Abdullah ibn Yasin. Pada tahun 1062 M, Yusuf ibn Tasyfin yang diserahi pemerintahan pada masa selanjutnya, berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesh. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam yang tengah mempertahankan kekuasaannya dari serangan raja-raja kristen. Dinasti Al-Murabithun memegang kekuasan selama 90 tahun, dengan enam orang penguasa yaitu: Abu Bakar bin Umar (1056-1061 M), Yusuf bin Tasyfin (1061-1107 M), Ali bin Yusuf (1107-1143 M), Tasyfin bin Ali (1143-1145 M), Ibrahim bin Tasfin dan Ishak bin Ali.

Umat Islam lainnya tidak tinggal diam, mereka juga mendirikan daulah yang merupakan daulah penerus kekuasaan  umat Islam di Andalusia  yaitu daulah Muwahhidun  yang didirikan oleh Ibnu Tumart, selama itu tampak kekuasaan Andalusia dipegang oleh dinasti Muwahhidun setelah Murabithun mengalami kemunduran  yang disebabkan oleh para penguasa yang kurang cerdik dalam memimpin kekuasaannya, hal ini memberi kemudahan pada orang kristen  untuk menghancurkan Muwahhidun sehingga dinasti Muwahhidun runtuh dan tidak memegang kekuasaan di Andalusia karena sebagian daerah Andalusia dikuasai oleh orang kristen.

  1. Perkembangan dinasti Murabithun dan Muwahhidun

Dinasti Murabithun mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan arsiktektur bangunan masjid. Selain itu daulah inilah yang pertama membuat dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amir al-Mu’minin dibagian depan mencontoh uang Abbasiyah dan bertuliskan kalimat iman dibagian belakang. Dinasti ini mengalami kemunduran dan kehancuran pada tahun 541 H. Faktor-faktor penyebab runtuhnya pemerintahan dinasti Murabithun adalah: 1) Lemahnya disiplin tentara dan merajalelanya korupsi yang melahirkan disintegrasi; 2) Berubahnya watak keras pembawaan Barber menjadi lemah ketika memasuki kehidupan Maroko di Andalusia yang mewah; 3) Mereka memasuki Andalusia ketika kecemerlangan intelektual kalangan Arab telah mengganti kesenangan berperang; 4) Kontak dengan peradaban sedang menurun dan tidak siap mengadakan asimilasi; 5) Dikalahkan oleh dinasti dari rumpun keluarganya sendiri, yaitu al-Muwahhidun. Dinasti Muwahhidun menaklukkan Maroko pada tahun 1146-1147 M yang ditandai dengan terbunuhnya penguasa Al-Murabithun yang terakhir, Ishak bin Ali.

Lain halnya dengan Muwahhidun, pada masanya Andalusia mencapai puncak kejayaannya, terutama pada Zaman Abdul Mu’min, perkembangan peradaban Islam, terutama pengembangan ilmu, politik, ekonomi, arsitektur, ilmu pengetahuan dan filsafat. Pada masa Muwahhidun terdapat tokoh-tokoh Islam yang terkenal dan memberikan sumbangan yang besar bagi majunya ilmu pengetahun seperti: Ibn Tufayl, Ibn Rusd, Ibn Arbi, dll. Setelah mengalami kekalahan selama satu abad (113-1169 M), Dinasti Muwahhidun mengalami kemunduran dan akhirnya hancur. Kemunduran ini terasa setelah an-Nashir wafat yang selanjutnya dipimpin oleh pimpinan yang lemah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997.

 

Hitti, Philip K. History of the Arabs. Jakarta: PT. Saerambi Ilmu Semesta. 2010.

 

Taufiqurrahman. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam: Daras Sejarah Peradaban Islam. Surabaya: Pustaka Islamika. 2003.

 

Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam klasik. Jakarta: kencana, 2011.

 

Abdurrahman, Dudung. Sejarah Peradapan Islam. Jogja: LESFI, 2004.

 

Thohir, Ajib. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar Akar Sejarah, Social, Politik,Dan Budaya Umat Islam. Jakarta: Logos, 2007.

 

 


[1]Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik  (Jakarta: Kencana, 2011) cet. Ke-4, 129.

[2]Philip K. Hitti, History of  The Arab, terj R. Cecep Lukman Yasin dkk (Jakarta,  PT Serambi Ilmu Semesta 2006 ), 688.

[3] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997). 66.

[4]Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, 134-135.

[5]Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradapan Islam ( Jogja, LESFI 2004 ), 228.

[6]Ibid.

[7]Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam (Surabaya: Pustaka Islamika, 2003), 170.

[8]Ibid., 171.

  [9]  Ibid.

[10]Ajib Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar Akar Sejarah, Social, Politik,Dan Budaya Umat Islam (Jakarta: Logos,2007 ), 112-114.

[11]Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, 140.

Makalah Daulah Abbasiyah

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam peradaban ummat Islam, Bani Abbasiyah merupakan salah satu bukti sejarah peradaban ummat Islam yang terjadi. Bani Abbasiyah merupakan masa pemerintahan ummat Islam yang memperoleh masa kejayaan yang gemilang. Pada masa ini banyak kesuksesan yang diperoleh Bani Abbasiyah, baik itu dibidang Ekonomi, Politik, dan Ilmu pengetahuan. Hal inilah yang perlu untuk kita ketahui sebagai acuan semangat bagi generasi ummat Islam bahwa peradaban ummat Islam itu pernah memperoleh masa keemasan yang melampaui kesuksesan negara-negara Eropa. Dengan kita mengetahui bahwa dahulu peradaban ummat Islam itu diakui oleh seluruh dunia, maka akan memotifasi sekaligus menjadi ilmu pengetahuan kita mengenai sejarah peradaban ummat Islam sehingga kita akan mencoba untuk mengulangi masa keemasan itu kembali nantinya oleh generasi ummat Islam saat ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah berdirinya Bani Abbasiyah ?
2. Seperti apa masa kekuasaan Bani Abbasiyah ?
3. Apa saja yang diperoleh pada masa kejayaan Bani Abbasiyah ?
4. Apa faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Bani Abbasiyah ?
5. Bagaimana akhir masa kekuasaan Bani Abbasiyah ?
C. TUJUAN
1. Menjelaskan bagaimana berdirinya Bani Abbasiyah, sehingga berhasil menguasai ke khalifahan yang sebelumnya di pegang oleh Bani Umayyah.
2. Mendeskripsikan masa kekuasaan Bani Abbasiyah dalam megelola pemerintahan.
3. Mendeskripsikan kemajuan-kemajuan yang diperoleh saat Bani Abbasiyah memengang ke khalifahan, baik itu dibidang ekonomi, politik, dan ilmu pengetahuan.
4. Mendeskripsikan faktor-faktor penyebab kemunduran Bani Abbasiayah.
5. Menjelaskan bagaimana akhir dari masa kekuasaan Bani Abbasiayah.

BAB II
ISI
Peradaban Islam pada masa Dinasti Bani Abbasiyah
A. Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M oleh Abul Abbas Ash-shaffah, dan sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan Bani Abbas melewati rentang waktu yang sangat panjang, yaitu lima abad dimulai dari tahun 132-656 H/750-1258 M. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun ) setelah meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan anak-anaknya.[1]
Kelahiran bani Abbasiyah erat kaitannya dengan gerakan oposisi yang di lancarkan oleh golongan syi’ah terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Golongan Syi’ah selama pemerintahan Bani Umayyah merasa tertekan dan tersingkir karena kebijakan-kebijakan yang di ambil pemerintah. Hal ini bergejolak sejak pembunuhan terhadap Husein Bin Ali dan pengikutnya di Karbela.
Gerakan oposisi terhadap Bani Umayyah dikalangan orang syi’ah dipimpin oleh Muhammad Bin Ali, ia telah di bai’ah oleh orang-orang syi’ah sebagai imam. Tujuan utama dari perjuangan Muhammad Bin Ali untuk merebut kekuasaan dan jabatan khalifah dari tangan Bani Umayyah, karena menurut keyakinan orang syi’ah keturunan Bani Umayyah tidak berhak menjadi imam atau khalifah, yang berhak adalah keturunan dari Ali Bin Abi Thalib, sedangkan bani umayyah bukan berasal dari keturunan Ali Bin Abi Thalib. Pada awalnya golongan ini memakai nama Bani Hasyim, belum menonjolkan nama Syi’ah atau Bani Abbas, tujuannya adalah untuk mencari dukungnan masyarakat. Bani Hasyim yang tergabung dalam gerakan ini adalah keturunan Ali Bin Abi Thalib dan Abbas Bin Abdul Muthalib. Keturunan ini bekerjasama untuk menghancurkan Bani Umayyah.[2]

Strategi yang digunakan untuk menggulingkan Bani Umayyah ada dua tahap :
• Gerakan secara rahasia
Propoganda Abbasiyah dilaksakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia, akan tetapi Imam Ibrahim pemimpin abbasiyah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti umayyah dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia telah mengetahui bahwa ia akan di eksekusi dan memerintahkan untuk pindah ke kuffah.
• Tahap terang-terangan dan terbuka secara umum
Tahap ini dimulai setelah terungkap surat rahasia Ibrahim bin Muhammad yang ditujukan kepada Abu Musa Al-Khurasani Agar membunuh setiap orang yang berbahasa Arab di Khurasan. Setelah khalifah Marwan bin Muhammad mengetahi isi surat rahasia tersebut ia menangkap Ibrahim bin Muhammad dan membunuhnya. Setelah itu pimpinan gerakan oposisi dipegang oleh Abul Abbas Abdullah bin Muhammad as-saffah, saudara Ibrahim bin Muhammad.
Abul Abbas sangat beruntung, karena pada masanya pemerintahan Marwan bin Muhammad telah mulai lemah dan sebaliknya gerakan oposisi semakin mendapat dukungan dari rakyat dan bertambah luas pengaruhnya. Keadaan ini tambah mendorong semangat Abul Abbas untuk menggulingkan khalifah Marwan bin Muhammad dari jabatannya. Untuk maksud tersebut Abul Abbas mengutus pamannya Abdullah bin Ali untuk menumpas pasukan Marwan bin Muhammad. Pertempuran terjadi antara pasukan yang dipimpin oleh khalifah Marwan bin Muhammad dengan pasukan Abdullah bin Ali di tepi sungai Al-Zab Al-Shagirdi, Iran. Marwan bin Muhammad terdesak dan melarikan diri ke Mosul, kemudian ke palestina, Yordania dan terakhir di Mesir. Abdullah bin Ali terus mengejar pasukan Marwan bin Muhammad sampai ke Mesir dan akhirnya terjadi pertempuran disana. Marwan bin Muhammad pun akhirnya tewas karena pasukannya sudah sangat lemah yaitu pada tanggal 27 Zulhijjah 132 H/750 M. Pada tahun 132 H/ 750 M Abul Abbas Abdullah bin Muhammad diangkat dan di bai’ah menjadi khalifah , dalam pidato pembiatan tersebut , ia antara lain mengatakan “saya berharap semoga pemerintahan kami ( Bani Abbas ) akan mendatangkan kebaikan dan kedamaian pada kalian. Wahai penduduk koufah, bukan intimidasi, kezaliman, malapetaka dan sebagainya. Keberhasilan kami beserta ahlul Bait adalah berkat pertolongan Allah SWT. Hai penduduk koufah, kalian adalah tumpuan kasih sayang kami, kalian tidak pernah berubah dalam pandangan kami, walaupun penguasa yang zalim ( Bani Umayyah ) telah menekan dan menganiaya kalian. Kalian telah dipertemukan oleh Allah dengan Bani Abbas, maka jadilah kalian orang-orang yang berbahagia dan yang paling kami muliakan….. ketahuilah, hai penduduk koufah, saya adalah al-saffah”. Setelah Abul Abbas resmi menjadi khalifah ia tidak lagi mengambil Damaskus sebagai pusat pemerintahan tetapi ia memilih Koufah sebagai pusat pemerintahannya, dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1) Para pendukung Bani Umayyah masih banyak yang tinggal di Damaskus
2) Kota Koufah jauh dari Persia, walaupun orang-orang Persia merupakan tulang punggung Bani Abbas dalam menggulingkan Bani Umayyah
3) Kota Damaskus terlalu dekat dengan wilayah kerajaan Bizantium yang merupakan ancaman bagi pemerintahannnya, akan tetapi pada masa pemerintahan khalifah Al-Mansur (754-775 M ) dibangun kota Baghdad sebagai ibu kota Dinasti Bani Abbas yang baru.[3]

B. Masa kekuasaan Bani Abbasiyah
Selama dinasti Bani Abbasiyah berdiri pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan pola pemerinthan itu, para sejarawan biasanya membagi kekuasaan Bani Abbasiyah pada empat periode :
• Masa Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya dinasti Abbasiyah tahun 132 H/750 M sampai meninggalnya khalifah Al-Watsiq 232 H/847 M.
• Masa Abbasiayah II, yaitu mulai khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H/847 M sampai berdirinya Daulah Buwaihiyah di Baghdad tahun 334 H/946 M.
• Masa Abbasiyah III, yaitu dari berdirinya Daulah Buwaihiyah tahun 334 H/946 M sampai masuknya kaum Saljuk ke Baghdad Tahun 447 H/1055 M
• Masa Abbasiyah IV, yaitu masuknya kaum saljuk di Baghdad tahun 447 H/1055 M sampai jatuhnya Baghdad ketangan bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H/1258 M.[4]

1) Masa Abbasiyah I ( 132 H/750 M-232 H/847 M )
Masa ini diawali sejak Abul Abbas menjadi khalifah dan berlangsung selama satu abad hingga meninggalnya khalifah Al-Watsiq. Periode ini dianggap sebagai zaman keemasan Bani Abbasiyah. Hal ini disebabkan karena keberhasilannya memperluas wilayah kekuasaan.
Wilayah kekuasaannya membentang dari laut Atlantik hingga sungai Indus dan dari laut Kaspia hingga ke sungai Nil. Pada masa ini ada sepuluh orang khalifah yang cukup berprestasi dalam penyebaran Islam mereka adalah khalifah Abul Abbas ash-shaffah(750-754 M), Al-Mansyur ( 754-775 M), Al-Mahdi (775-785 M), Al-Hadi (785-786 M), Harun Al-Rasyid (786-809 M), Al-Amin (809 M), Al-Ma’mun (813-833 M), Ibrahim (817 M), Al-Mu’tasim (833-842 M), dan Al-Wasiq (842-847 M).
2) Masa Abbasiyah II ( 232 H/847 M-334 H/946 M)
Periode ini diawali dengan meninggalnya khalifah Al-Wasiq dan berakhir ketika keluarga Buwaihiyah bangkit memerintah. Sepeninggal Al-Wasiq, Al-Mutawakkil naik tahta menjadi khalifah, masa ini ditandai dengan bangkitnya pengaruh Turki.
Setelah Al-Mutawakkil meninggal dunia, para jendral yang berasal dari Turki berhasil mengontrol pemerintahan. Ada empat khalifah yang dianggap hanya sebagai simbol pemerintahan dari pada pemerintahan yang efektif, keempat pemerintahan itu adalah Al-Muntasir (861-862 M ), Al-Musta’in (862-866 M), Al-Mu’taz (866-896 M), dan Al-Muhtadi (869-870 M). Masa pemerintahan ini dinamakan masa disintegrasi, dan akhirnya menjalar keseluruh wilayah sehinngga banyak wilayah yang memisahkan diri dari wilayah Bani Abbas dan menjadi wilayah merdeka seperti Spanyol, Persia, dan Afrika Utara.
3) Masa Abbasiyah III (334 H/946 M -447 H/1055 M)
Masa ini ditandai dengan berdirinya Dinasti Buwaihiyah, yaitu Pada masa ini jatuhnya Khalifah Al-Muktafi (946 M) sampai dengan khalifah Al-Qaim (1075 M). Kekuasaaan Buwaihiyah sampai ke Iraq dan Persia barat, sementara itu Persia timur, Transoxania, dan Afganistan yang semula dibawah kekuasaan Dinasti Samaniah beralih kepada Dinasti Gaznawi. Kemudian sejak tahun 869 M, dinasti Fatimiyah berdiri di Mesir.
Kekhalifahan Baghdad jatuh sepenuhnya pada suku bangsa Turki. Untuk keselamatan, khalifah meminta bantuan kepada Bani Buwaihiyah. Dinasti Buwaihiyah cukup kuat dan berkuasa karena mereka masih menguasai Baghdad yang merupakan pusat dunia islam dan menjadi kediaman Khalifah
Pada akhir Abad kesepuluh, kedaulaulatan Bani Abbasiyah telah begitu lemah hingga tidak memiliki kekuasaan diluar kota Baghdad. Kekuasaan Bani Abbasiyah berhasil dipecah menjadi dinasti Buwaihiyah di Persia (932-1055 M), dinasti Samaniyah di Khurasan (874-965 M), dinasti Hamdaniayah di Suriah (924-1003 M), dinasti Umayyah di Spanyol (756-1030 M), dinasti Fatimiyah di Mesir (969-1171 M), dan dinasti Gaznawi di Afganistan (962-1187 M)
4) Masa Abbasiyah IV (447 H/1055 M -656 H/1258 M )
Masa ini ditandai dengan ketika kaum Seljuk menguasai dan mengambil alih pemerintahan Abbasiyah. Masa seljuk berakhir pada tahun 656 H/1258 M, yaitu ketika tentara mongol menyerang serta menaklukkan Baghdad dan hampir seluruh dunia Islam terutama bagian timur.[5]

C. Masa Kejayaan Peradaban Bani Abbasiyah
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasan, secara politis para khalifah memang orang-orang yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik sekaligus Agama. Disisi lain kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan Filsafat dan ilmu pengetahan dalam Islam.
Peradaban dan kebudayyan Islam berkembang dan tumbuh mencapai kejayaan pada masa Bani Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan pada masa ini Abbasiyah lebih menekankan pada perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah. Disinilah letak perbedaan pokok dinasti Abbasiyah dengan dinasti Umayyah.
Puncak kejayaan dinasti Abbasiyah terjadi pada masa khalifah Harun Al- Rasyid (786-809 M) dan anaknya Al-Makmun (813-833 M). Ketika Al-Rasyid memerintah, negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin walaupun ada juga pemberontakan dan luas wilayahnya mulai dari Afrika Utara sampai ke India.
Lembaga pendidikan pada masa Bani Abbasiyah mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat, hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa pengetahuan, selain itu juga ada dua hal yang tidak terlepas dari kemajuan ilmu pengetahuan yaitu :
a. Terjadinya asimilasi antara bahasa Arab dengan bahasa bangsa lain yang telah lebih dulu mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bagssa itu memberi saham tertentu bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia sangat kuat dalam bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh India terlihat dari bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani terlihat dari terjemahan-terjemahan di berbagai bidang ilmu, terutama Filsafat.
b. Gerakan penerjemahan berlangsung selama tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah Al-Mansyur hingga Hasrun Al-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemah adalah buku-buku dibidang ilmu Astronomi dan Mantiq. Fase kedua terjadi pada masa khalifah Al-Makmun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemah adalah bidang filsafat, dan kedokteran. Dan pada fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Selanjutnya bidang-biadang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.[6]
Di zaman khalifah Harun al- Rasyid (786-809 H) adalah zaman yang gemilang bagi Islam. Zaman ini kota baghdad mencapai puncak kemegahannya yang belum pernah dicapai sebelumnya, Harun sangat cinta pada sastrawan, ulama, Filosof yang datang dari segala penjuru ke Baghdad. Salah satu pendukung utama tumbuh pesatnya ilmu pengetahuan tersebut adalah didirikannya pabrik kertas di Baghdad. Orang Islam pada awalnya membawa kertas dari Tiongkok, usaha pembuatan kertas erat kaitannya dengan perkembangan Universitas Islam.

Pabrik kertas ini memicu pesatnya penyalinan dan pembuatan naskah-naskah, dimasa itu seluruh buku ditulis tangan. Ilmu cetak muncul pada tahun 1450 M ditemukan oleh gubernur di Jerman. Dikota-kota besar islam muncul toko-toko buku yang sekaligus juga berfungsi sebagai sarana pendidikan dan pengajaran non-formal.[7]
Popularitas Bani Abbasiyah ini juga ditandai dengan kekayaan yang dimanfaatkan oleh khalifah Al-Rasyid untuk keperluan sosial seperti Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan faramasi didirikan, dan pada masannya telah ada sekitar 800 orang dokter, selain itu pemandian-pemandian umum didirikan. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Pada zaman inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.[8]
Adapun ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa Bani Abbasiayah adalah sebagai berikut :
 Ilmu Kedokteran
Pada mulanya Ilmu Kedokteran telah ada pada saat Bani Umayyah, ini terbukti dengan adannya sekolah tinggi kedokteran Yundisapur dan Harran[9]. Dinasti Abbasiyah telah banyak melahirkan dokter terkenal diantaranya sebagai berikut
• Hunain Ibnu Ishaq (804-874 M) terkenal segai dokter yang ahli dibidang mata dan penerjema buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab.
• Ar-Razi (809-1036 M) terkenal sebagai dokter yang ahli dibidang penyakit cacar dan campak. Ia adalah kepala dokter rumah sakit di Baghdad. Buku karangannya dbidang ilmu kedokteran adalah Al-Ahwi.
• Ibnu Sina (980-1036 M), yang karyanya yang terkenal adalah Al-Qanun Fi At-Tibb dan dijadikan sebagai buku pedoman bagi Universitas di Eropa dan negara-negara Islam.
• Ibnu Rusyd (520-595 M) terkenal sebagai dokter perintis dibidang penelitian pembuluh darah dan penyakit cacar. Dll[10]

 Ilmu tafsir
Pada masa ini muncul dua alirang yaitu ilmu tafsir Al-matsur dan Tafsir Bir ra’yi, aliran yang pertama lebih menekan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist dan pendapat tokoh-tokoh sahabat. Sedangkan aliran tafsir yang kedua lebih menekan pada logika ( rasio ) dan Nash. Diantara ulama tafsir yang terkenal pada masa ini adalah Ibnu Jarir al-Thabari (w.310 H) dengan karangannya jami’ al-bayan fi tafsir Al-Qur’an, Al-Baidhawi dengan karangannya Ma’alim al-tanzil, al-Zakhsyari dengan karyanya al-kassyaf, Ar-Razi(865-925 M) dengan karangannya al-Tafsir al-Kabir, dan lain-lainnya.
 Ilmu Hadist
Pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Abdul Aziz (717-720 M) dari Bani Umayyah sudah mulai usaha untuk mengumpulkan dan membukukan Hadist. Akan tetapi perkembangan ilmu hadist yang paling menonjol pada amasa Bani Abbasiyah, sebab pada masa inilah muncul ulama-ulama hadist yang belum ada tandingannya sampai sekarang. Diantara yang terkenal ialah Imam Bukhari (W.256 H) ia telah mampu mangumpulkan sebanyak 7257 Hadist dan setelah diteliti terdapat 4000 hadist Shahih dari yang telah berhasil dikumpulkan oleh imam Bukhari yang disusun dalam kitabnya Shahih Bukhari. Imam Muslim ( W. 251 H) terkenal sebagai seorang ulama hadist dengan bukunya Shahih Muslim, buku karangan imam Bukhari dan Muslim diatas lebih berpengaruh bagi umat Islam dari pada buku-buku hadist lainnya, seperti Sunan Abu Daud oleh Abu Daud ( W.257 H) sunan Al- Turmizi oleh imam Al-Turmizi(W.287 H) Sunan Al-Nasa’i oleh Al-Nasa’i ( W.303 H) dan sunan Ibnu-Majah oleh Imam Ibnu Majah ( W.275 H) keenam buku hadist tersebut lebih dikenal dengan sebutan Al- Kutub Al-Sittah.
 Ilmu Kalam
Bukanlah hal yang berlebihan jika dikatakan pada masa Bani Abbasaiyah merupakan dasar-dasar Ilmu Fiqh. Ilmu ini disusun oleh ulama-ualama yang terkenal pada masa itu dan masih besar pengaruhnya sampai sekarang, Diakalangan Ulama Ahlu al-Sunnah wal jamaah. Muncul Imam Abu Hanifah(810-150 H) yang lebih cendrung memakai akal (rasio) dan Ijtihad, Imam Malik Bin Anas (93-179 H) yang lebih cendrung memakai hadist dan menjauhi sampai batas tertentu pemakaian Rasio, Imam Syafi’i (150-204 H) yang berusaha mengkompromikan aliran Ahl al-Ra’yi, dengan Ahl al-Hadist dalam Fiqh, dan Imam Ahmad bin Hambal(164-241 H) yang merupakan tokoh aliran Fiqh yang keras, ketat dan kurang luwes dari aliran-aliaran fiqh yang lainnya. Buku karang mereka masih dapat kita temukan sampai sekarang yaitu al-muawatta, al-umm, al-risalah, dan sebagainya.
 Ilmu Tashawuf
Dalam bidang ilmu Tashawuf juga muncul ulama-ulama yang terkenal pada masa pemerintahn Daulah Bani Abbasiyah. Imam Al-Ghazali sebagai seorang ulama sufi pada masa Daulah Bani Abbasiyah meninggalkan karyanya yang masih beredar sampai sekarang yaitu buku Ihya’ Al-Din, yang terdiri dari lima jilid. Al-Hallaj (858-922 M) menulis buku tentang Tashawuf yang berjudul Al-Thawasshin, Al-Thusi menulis buku al-lam’u fi al-Tashawuf, Al-Qusyairi (W. 465 H) dengan bukunya al-risalat al-Qusyairiyat fi il’m al-Tashawuf.[11]
 Ilmu Matematika
Terjemahan dari bahasa asing ke bahasa Arab menghasilkan karya dibidang matematika. Diantara ahli matematika islam yang terkenal adalah Al-Khawarizmi, adalah seorang pengarang kitab Al-Jabar wal Muqabalah (ilmu hitung) dan penemu angka Nol. Tokoh lainnya adalah Abu Al-Wafa Muhammad Bin Muhammad Bin Ismail Bin Al-Abbas terkenal sebagi ahli ilmu matematika.[12]
 Ilmu Farmasi
Diantara ahli farmasi pada masa Bani Abbasiyah adalah Ibnu Baithar, karyanya yang terkenal adalah Al-Mughni (berisi tentang obat-obatan), jami’ al-mufradat al-adawiyah (berisi tentang obat-obatan dan makanan bergizi).
Dan masih banyak lagi ilmu yang berkembang pada masa Bani Abbasiyah berkuasa, hal ini terlihat bahwa saat Khalifah Al-Mustansir (1226-1242 M) memerintah ia mendirikan Universitas Mustansiriah di Baghdad yang dapat dibanggakan karena telah mampu melampaui Universitas di Eropa. Mereke mempunyai Fakultas-fakultas yang sempurna, mahaguru digaji berdasarkan banyak mahasiswa yang terdapat dalam Fakultasnya, setiap Mahasiswa dan Mahaguru mendapatkan satu dinar emas setiap bulannya, dan rata-rata setiap Fakultas tidak ada yang kurang dari 3000 Mahasiswa didalamnya. Setiap Mahasiswa boleh makan ke dapur umum Mahasiswa dengan Cuma-Cuma, sebuah perpustakaan besar terdapat dalam Universitas itu. Setiap mahasiswa yang berkeinginan menyalin buku-buku atau ingin menyusun buku baru, ada sebuah kantor yang mengurus persediaan kertas, pena dan tinta untuk keperluan itu. Disamping Universitas dibangun sebuah rumah sakit untuk mahasiswa diperiksa kesehatannya, hal inilah yang menyebabakan berbagai Universitas di Eropa mengambil contoh pada Universitas Mustansiriah itu.[13]
D. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kemunduran Bani Abbasiyah
Menurut W. Montgomery, bahwa beberapa faktor penyebab kemunduran Bani Abbasiyah adalah :
1. Luasnya wilayah kekuasaan Bani Abbasiyah, sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya antara penguasa dan pelaksana pemerintah sudah sangat rendah.
2. Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
3. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat iu kekuatan militer menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.[14]
Sedangkan menurut Dr. Badri Yatim, M. A diantara hal yang menyebabkan kemunduran Daulah Bani Abbasiayah Adalah :
1. Persaingan antar bangsa
Khalifah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia, persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib pada saat pemerintahan Bani Umayyah, keduanya sama-sama tertindas. Setelah dinasti Abbasiyah berdiri Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Pada masa ini persaingan antar bangsa menjadi pemicu untuk saling berkuasa. Kecendrungan masing-masing bangsa untuk berkusa telah dirasakan sejak awal pemerintahan Bani Abbas.
2. Kemerosotan Ekonomi
Khalifah Abbasiyah juga mengalami kemerosotan Ekonomi bersamaan dengan Kemunduran dibidang Politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbasiyah merupakan pemerintahan yang kaya, dan keuangan yang masuk lebih besar dari pada yang keluar, sehingga Baitul Mal penuh dengan Harta. Setelah khalifah mengalami periode kemunduran , pendapatan negara menurun, dengan demikian terjadi kemerosotan ekonomi.
3. Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan masalah kebangsaan. Pada periode Abbasiyah , konflik keagamaan yang muncul menjadi isu sentra sehingga terjadi perpecahan. Berbagai Aliran keagaam seperti Mu’tazillah, Syi’ah, Ahlus sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya menjadikan pemerintahan Abbasiyah mengalami kesulitan untuk mempersatukan berbagai faham keagamaan yang ada.
4. Perang Salib
Perang salib merupakan sebab dari eksternal ummat Islam. Pernag salib yang terjadi beberapa gelombang banyak menelan korban. Konsentrasi dan perhatian Bani Abbasiyah terpecah belah untuk menghadapi tentara salib sehingga memunculkan kelemahan-kelemahan.
5. Serangan Bangsa Mongol
Serangan tentara mongol ke wilayah Islam menyebabkan kekuatan Islam menjadi lemah, apalagi serangan Hulagu Khan dengan pasukan Mongol yang biadab menyebabkan kekuasaan Abbasiyah menjadi lemah dan akhirnya menyerah pada kekuatan Mongol.[15]
E. Masa Akhir Kekuasaan Bani Abbasiyah
Akhir dari kekuasaan Bani Abbasiyah adalah saat Baghdad dihancurkan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan (656 H/1258 M). Ia adalah saudara dari Kubilay Khan yang berkuasa di Cina sampai ke Asia Tenggara, dan saudaranya Mongke Khan yang menugaskannya untuk mengembalikan wilayah-wilayah sebelah barat dari Cina kepangkuannya. Baghdad dihancurkan dan diratakan dengan tanah. Pada mulanya Hulagu Khan mengirim suatu tawaran kepada Khalifah Bani Abbasiyah yang terakhir Al-Mu’tashim billah untuk bekerja sama menghancurkan gerakan Assassin. Tawaran tersebut tidak dipenuhi oleh khalifah. Oleh karena itu timbullah kemarahan dari pihak Hulagu Khan. Pada bulan september 1257 M, Khulagu Khan melakukan penjarahan terhadap daerah Khurasan, dan mengadakan penyerangan didaerah itu. Khulagu Khan memberikan ultimatum kepada khalifah untuk menyerah, namun khalifah tidak mau menyerah dan pada tanggal 17 Januari 1258 M tentara Mongol melakukan penyerangan.[16]
Pada waktu penghancuran kota Baghdad, khalifah dan keluarganya dibunuh disuatu daerah dekat Baghdad sehingga berakhirlah Bani Abbasiyah. Penaklukan itu hanya membutuhkan beberapa hari saja, tentara Mongol tidak hanya menghancurkan kota Baghdad tetapi mereka juga menghancurkan peradaban ummat Islam yang berupa buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah hasil karya ummat Islam yang tak ternilai harganya. Buku-buku itu dibakar dan dibuang ke sunagi Tigris sehingga berubah warna air sungai tersebut, dari yang jernih menjadi hitam kelam karena lunturan air tinta dari buku-buku tersebut.[17]

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Bani Abbasiyah merupakan masa pemerintahan ummat Islam yang merupakan masa keemasan dan kejayaan dari peradaban ummat Islam yang pernah ada. Pada masa Bani Abbasiyah kekayaan negara melimpah ruah dan kesejahteraan rakyat sangat tinggi. Pusat peradaban Islam mengalami kemajuan yang pesat sehingga pada masa ini banyak muncul para tokoh ilmuan dari kalangan Ummat Islam, baik itu ilmu pengatuhan yang bersifat umum seperti ilmu kedokteran yang telah mencetak dokter seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain-lainnya, sehingga pada masa ini telah ada lebih dari 800 dokter yang berada di kota Baghdad. Dalam bidang matematika melahirkan ilmuan bernama Al-Khawarizmi yang merupakan penemu angka Nol. Demikian juga dari biang ilmu agama, adanya perkembangan ilmu tafsir, ilmu kalam, filsafat Islam, dan ilmu tashauf, yang juga melairkan tokoh-tokoh dibidang ilmu masing-masing. Pada masa pemerintahan khalifah Harun Al-rasyid kesejahteraan ummat sangat terjamin, karena pada masa inilah puncak dari kejayaan Bani Abbasiyah, pembangunan dilakukan dimana-mana, baik pembangunan rumah sakit, irigasi, dan pemandian-pemandian umum.
Namun diakhir pemerintahan Khalifah Bani Abbasiyah, Islam mengalami keterpurukan yang sangat parah. Hal ini disebabkan dari serangan tentara Mongol yang telah mengahncurkan pusat peradaban Ummat Islam di Baghdad dan mengahancurkan Pusat ilmu pengetahuan yaitu Baitul Hikmah, yang berisi buku-buku karangan pakar ilmu ummat Islam yang tak ternilai harganya.

DAFTAR PUSTAKA
• Drs. Amin, Samsul Munir,M. A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2009
• Prof. Dr. H. Harun, Maidir dan Drs. Firdaus, M. Ag, Sejarah Peradaban Islam jilid II, Padang : IAIN-IB Press, 2001
• Dra. Hj. Ismail, Chadijah, sejarah pendidikan Islam, Padang : IAIN-IB Press, 1999
• Wahid, N. Abbas dan Suratno, Khazanah Sejarah Kebudaan Islam, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009
• Dr. Yatim,Badri, M. A, Sejarah Peradaban Islam ( Dirasah Islamiyah II ), Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1993

________________________________________
[1] Drs. Samsul Munir Amin, M.A, sejarah peradaban islam ( Jakarta : Amzah, 2009) hal 138
[2] Prof. Dr. H. Maidir Harun dan Drs. Firdaus, M. Ag, sejarah peradaban islam jilid II ( Padang : IAIN-IB Press, 2001 ) hal 1
[3] Prof. Dr. H. Maidir Harun dan Drs. Firdaus, op.cit, hal 4-8
[4] Drs. Samsul Munir Amin, M. A, op.cit, hal 141
[5] N. Abbas Wahid dan Suratno, Khazanah Sejarah Kebudayyan Islam (Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009)
[6] Drs. Samsul Munir Amin, M. A, op.cit, hal 145-146
[7] Dra. Hj. Chadijah Ismail,sejarah pendidikan Islam ( Padang : IAIN-IB Press,1999) hal 41
[8] Dr. Badri Yatim, op.cit, hal 52-53
[9] Prof. Dr. H. Maidir Harun dan Drs. Firdaus, op.cit, hal 25
[10] N. Abbas Wahid dan Suratno, op.cit, hal 50
[11] Prof. Dr. H. Maidir Harun dan Drs. Firdaus, op.cit, hal 20-24
[12] Drs. Samsul Munir Amin, op.cit, hal 150-151
[13] Dra. Hj. Chadijah Ismail, op.cit, hal 45-46
[14] Drs. Samsul Munir Amin, M. A, op.cit, hal 155
[15] Dr. Badri Yatim, M. A, op.cit, hal 80-85
[16] Prof. Dr. H. Maidir Harun dan Drs. Firdaus, M. Ag, op.cit, hal 59- 60
[17] Dr. Samsul Munir Amin, M. A, op.cit, hal 156-157
D