Beranda » Uncategorized » MURABITHUN DAN MUWAHHIDUN

MURABITHUN DAN MUWAHHIDUN

MURABITHUN DAN MUWAHHIDUN

(Negara Agama dan Jatuhnya Bangunnya Islam di Afrika)

 

MAKALAH INI DITULIS UNTUK MEMENUHI TUGAS

MATA KULIAH “SEJARAH PERADABAN ISLAM”

DOSEN:

Prof. Dr. H. Ali Mufrodi, MA.

Dr. M. Taufiqurrahman, M. Ag.

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

LYANA DEWI SOLIKHAH

NIM: 921.003.12.020

 

PROGRAM PASCASARJANA

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

STAIN KEDIRI

TAHUN AKADEMIK 2012/2013

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Belakang

Islam masuk ke Andalusia diperkirakan pada tahun 711 M pada masa pemerintahan khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Setelah orang Islam bisa menjatuhkan Andalusia ke tangannya, maka mereka memperluas daerah kekuasaannya dan mendirikan dinasti yang pertama kali ada di Andalusia yaitu dinasti bani Umayyah yang didirikan oleh Abdul Aziz bin Musa Nusair (95-97 H/ 715-717 M), sehingga negara-negara Islam sangatlah luas dan mencapai kemajuan.

Setelah masa keemasan bani Umayyah semakin surut, maka kekuasaan Islam di Andalusia diteruskan oleh dinasti Murabithun, Muwahhidun dan Bani Ahmar. Pada masa ini Islam maju dan berkembang serta terus memperluas wilayah kekuasaannya hingga akhirnya umat Islam mengalami masa kehancuran, Andalusia hanya tinggal sejarah pada waktu itu.

Pada pembahasan kali ini kami akan membahas dinasti Murahbithun dan Muwahhidun. Dinasti tersebut mempunyai wilayah yang luas dan memberikan sumbangan yang tak sedikit bagi pengetahuan dan perkembangan Islam serta kelak mampu menguasai Andalusia di mana saat itu Andalusia sedang dalam perpecahan dan dikuasai oleh raja-raja kecil (Muluk al-Tawaif) yang beragama Islam tapi membayar upeti kepada kerajaan Kristen yang didukung oleh Romawi. Meskipun nanti pada akhirnya Andalusia lepas dari kekuasaan pemerintahan Islam dan diporak-porandakan oleh pasukan Kristen.

 

 

 

 

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, kita dapat menentukan rumusan masalahnya, yaitu:

  1. Bagaimana asal mula berdirinya dinasti Murabithun dan Muwahhidun di Andalusia?
  2. Bagaimana perkembangan yang dicapai oleh dinasti Murabithun dan Muwahhidun di Andalusia?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

  1. A.    Asal Mula Berdirinya Dinasti Murabithun dan Muwahhidun
    1. 1.      Dinasti Murabithun

Murabithun atau Al-Murawiyah (448-541/1056-1147), merupakan salah satu Dinasti Islam yang berkuasa di Maghrib. Nama Al-Murabithun berkaitan dengan nama tempat tinggal mereka (ribath).[1] Murabithun (ribath) sejenis benteng pertahanan Islam yang berada di sekitar masjid. Masjid mempunyai multifungsi sebagai tempat ibadah, penyebaran dakwah sekaligus sebagai benteng pertahanan. Anggota pertamanya berasal dari Lamtuna bagian dari suku Sanhaja yang suka mengembara di padang Sahara.[2] Salah satu kebiasaan mereka menggunakan cadar yang menutupi wajah di bawah mata, kebiasaan ini dinamakan Mulatstsamun (para pemakai cadar) yang kadang-kadang menjadi sebutan lain bagi kaum Murabithun.

Ibu kota al-Murabithun ialah Marakesy yang didirikan oleh pemimpin mereka yang kedua, Yusuf ibn Tasyfin, 454/ 1062. Mereka juga berjasa mengIslamkan penduduk pantai barat Afrika, dan melintasi Sahara hingga ke Sudan di timur benua Afrika itu. Mereka mengakui khilafah Abbasiyah dan menganut mazhab Maliki yang tersebar luas di Afrika Utara. Akhirnya, al-Murabithun ditundukkan oleh al-Muwahhidun yang telah menguat di Afrika Utara.[3]

Pada abad ke sebelas pemimpin Sanhaja, Yahya bin Ibrahim, melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Dan sekembalinya dari Arabia, ia mengundang Abdullah bin Yasin seorang alim terkenal di Maroko, untuk membina kaumnya dengan keagamaan yang baik, kemudian beliau dibantu oleh Yahya bin Umar dan saudaranya Abu Bakar bin Umar. Perkumpulan ini berkembang dengan cepat, sehingga dapat menghimpun sekitar 1000 orang pengikut.

Di bawah pimpinan Abdullah bin Yasin dan komando militer Yahya bin Umar mereka berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Wadi Dara, dan kerajaan Sijil Mast yang dikuasai oleh Mas’ud bin Wanuddin. Ketika Yahya bin Umar meninggal dunia, jabatannya diganti oleh saudaranya, Abu Bakar bin Umar, kemudian ia menaklukkan daerah Sahara Maroko. Setelah diadakan penyerangan ke Maroko tengah dan selatan selanjutnya menyerang suku Barghawata yang menganut paham bid’ah. Dalam penyerangan ini Abdullah bin Yasin wafat (1059 M). Sejak saat itu Abu Bakar memegang kekuasaan secara penuh dan ia berhasil mengembangkannya.

Abu Bakar berhasil menaklukkan daerah Utara Atlas Tinggi dan akhirnya dapat menduduki daerah Marakesy (Maroko). Kemudian ia mendapat berita bahwa Buluguan, Raja Kala dari Bani Hammad mengadakan penyerangan ke Maghrib dengan melibatkan kaum Sanhaja. Mendengar berita itu ia kembali ke Sanhaja untuk menegakkan perdamaian. Setelah berhasil memadamkan, ia menyerahkan kekuasaanya kepada Yusuf bin Tasyfin pada tahun 1061.

Pada tahun 1062 M, Yusuf bin Tasyfin mendirikan ibu kota di Maroko. Dia berhasil menaklukkan Fez (1070 M) dan Tangier (1078 M). Pada tahun 1080-1082 M, ia berhasil meluaskan wilayah sampai ke Al-Jazair. Dia mengangkat para pejabat Al-Murabithun untuk menduduki jabatan Gubernur pada wilayah taklukannya, sementara ia memerintah di Maroko. Yusuf bin Tasfin meninggalkan Afrika pada tahun 1086 M dan memperoleh kemenangan besar atas Alfonso VI (Raja Castile Leon), dan Yusuf bin Tasfin mendapat dukungan dari Muluk At-Thawa’if dalam pertempuran di Zallaqah. Ketika Yusuf bin Tasfin meninggal dunia, ia mewariskan kepada anaknya, Abu Yusuf bin Tasyfin. Warisan itu berupa kerajaan yang luas dan besar terdiri dari negeri-negeri Maghrib, bagian Afrika dan Spanyol. Ali ibn Yusuf melanjutkan politik pendahulunya dan berhasil mengalahkan anak Alfonso VI (1108 M). Kemudian ia ke Andalusia merampas Talavera Dela Rein.

Lambat laun Dinasti Al- Murabithun mengalami kemunduran dalam memperluas wilayah. Kemudian Ali mengalami kekalahan pertempuran di Cuhera (1129 M). kemudian ia mengangkat anaknya Tasyfin bin Ali menjadi Gubernur Granada dan Almeria. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menguatkan moral kaum Murabithun untuk mempertahankan serangan dari raja Alfonso VII. Masa terakhir Dinasti Al-Murabithun tatkala dikalahkan oleh Dinasti Muwahhidun yang dipimpin oleh Abdul Mun’im. Dinasti Muwahhidun menaklukkan Maroko pada tahun 1146-1147 M yang ditandai dengan terbunuhnya penguasa Al-Murabithun yang terakhir, Ishak bin Ali.

Dinasti Al- Murabithun memegang kekuasan selama 90 tahun, dengan enam orang penguasa yaitu: Abu Bakar bin Umar, Yusuf bin Tasyfin, Ali bin Yusuf, Tasyfin bin Ali, Ibrahim bin Tasfin, Ishak bin Ali. Penguasa-penguasa di Afrika Utara ini menjadi pendukung para penulis, filosofis, para penyair, dan arsitektur bangsa Spanyol. Masjid agung di Themsen dibangun tahun 1136. Memperbaiki masjid Qairuwan menurut desain Spanyol, dan membangun kota Maroko menjadi ibu kota kerajaan dan pusat keagamaan. Daulah Murabithun inilah yang pertama membuat dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amirul Mukminin dibagian depan mencontoh uang Abbasiyah dan bertuliskan kalimat iman dibagian belakang. Pembuatan uang ini dicontoh oleh Alfonso VIII dengan kalimat Amir al-Qatuliqun (Pemimpin Katolik) di bagian depan dan Amam al-Bi’ah Almasihiyah (pemimpin gereja Kristen) pada bagian belakang.[4]

  1. 2.      Dinasti Muwahhidun

Sama halnya dengan dinasti Murabithun yang memulai propagandanya dibidang keagamaan. Atau setidak-tidaknya menjadikan agama sebagai dasar gerakan tersebut. Pelopor dan sekaligus sebagai pendiri adalah Muhammad ibn Tumart yang lahir di Atlas tahun 1082 M.[5] Dia berasal dari suku Masmudah pegunungan Atlas Maroko. Dia merupakan seorang pengelana yang haus ilmu pengetahuan. Dia belajar dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari Cordoba, Alexandaria, Mekkah dan akhirnya di Baghdad.

Setelah kembali dari perantauannya di Maroko, Ibn Tumart mulai mengadakan propaganda pembaruan terhadap tradisi Islam yang dogmatis kepada pentauhidan yang murni dan tegas. Sebutan yang diberikan kepada pengikutnya adalah al-Muwahhidun yang berarti Penegak KeEsaan Tuhan. Dalam bidang teologi ia berpaham al Asy‘ariyah, sedangkan dalam bidang tasawuf ia memilih paham yang dikembangkan oleh imam al-Ghazali, dan bidang Fiqh dia menganut madzhab Maliki. Ibn Tumart sangat keras dan terkadang kasar dalam menanamkan moral dan kepercayaan agama, ia pernah memukul saudara perempuan dari gubernur dinasti Murabithun di kota Fez karena tidak mengenakan kerudung.

Gerakan Muwahhidun semakin lama semakin banyak pengikutnya di Aghmat. Ibn Tumart berhasil memikat suku Barber Atlas. Suku itu sebelumya sudah memeluk agama Islam tapi sangat minim pengetahuan terhadap Islam. Dari gerakan keagamaan kemudian berubah menjadi gerakan politik, dan para pengikutnya menyebutnya sebagai Imam Mahdi. Gerakan ini semakin sukses karena dibantu oleh Abdul Muin, orang yang ahli dalam hal strategi dan militer. Di kota Tin Malal (Tinmal) mendirikan masjid sebagai pusat pengajaran dan propagannya, dan di kota ini pada tahun 1121 M dijadikan sebagai ibu kota pertama al Muwahhidun.[6]

Setelah Ibn Tumart meninggal dunia tahun 1130 gerakan ini dipimpin oleh Abdul Mu’min yang kemudian menggunakan gelar khalifah bagi dirinya. Dia berhasil menaklukan, mengusai kerajaan Hammiyah di Bejaya, Ziridiyah di Ifriqiyah, Teluk Sidra, dinasti Murabithun dan ibu kotanya Marrakesh (Maroko) Afrika Utara pada tahun 1147, Padang Pasir Libya 1149. Pada tahun 1170 dia melakukan ekspansi ke Spanyol dan berhasil menguasainya. Kemudian dia menjadikan Sevillle sebagai ibu kota Dinasti Muwahhidun.

 

  1. B.     Perkembangan yang Dicapai oleh Dinasti Murabithun dan Muwahhidun di Andalusia.
    1. 1.      Kemajuan dan Kemunduran Dinasti Murabithun
      1. Kemajuan

Dinasti Murabithun memegang kekuasaan selama 90 tahun dengan enam orang penguasa yang telah disebutkan di atas. Murabithun memegang peran penting mempersatukan bangsa Barber dalam satu kesatuan. Dinasti Murabithun banyak mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan arsitektur bangunan masjid.

Dinasti inilah yang pertama membuat dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amir al-Mu’minin dibagian depan mencontoh uang Abbasiyah dan bertuliskan kalimat iman di bagian belakang.

Terkait dengan ekonomi, di bawah kekuasaan Yusuf ibn Tasyfin berkembang dengan pesat. Ia dapat mengumpulkan penghasilan untuk negara sebesar 120.000 pound emas. Ia juga menghapus pajak karena tidak ada perintah dalam Al-Qur’an, dan kehidupan amat murah dan bersahaja sedang masyarakat menikmati kedamaian. Kehadiran agama Kristen dan Yahudi sedikit sulit namun mereka menikmati kebebasan beragama, tapi tidak boleh mendirikan gereja atau sinagong. Kebebasan berpikir pada zamannya dihalang-halangi, mereka menentang teologi dan sufisme. Dinasti Murabithun merupakan dinasti Sunni dengan mazdhab hukumnya Maliki. Namun dalam soal dekorasi bentuk puisi populer dan lagu berkembang.[7]

  1. Kemunduran

Dinasti Murabithun mengalami kemunduran dan kehancuran pada tahun 541 H/ 1147 M. Sebab-sebab kehancuran mulai terasa ketika Ali, anak Yusuf menduduki jabatan Amir, karena tidak secakap ayahnya ia banyak menggunakan waktunya untuk beribadah, didominasi istrinya. Hal ini membuat masyarakat tidak bergembira, bangsawan berebut kekuasaan, tentaranya ceroboh, orang kaya Barber mengikuti jalan setan.[8]

Adapun secara terperinci, diantara faktor-faktor penyebab runtuhnya pemerintahan dinasti Murabithun adalah:

1)      Lemahnya disiplin tentara dan merajalelanya korupsi yang melahirkan disintegrasi.

2)      Berubahnya watak keras pembawaan Barber menjadi lemah ketika memasuki kehidupan Maroko di Andalusia yang mewah.

3)      Mereka memasuki Andalusia ketika kecemerlangan intelektual kalangan Arab telah mengganti kesenangan berperang.

4)      Kontak dengan peradaban sedang menurun dan tidak siap mengadakan asimilasi.

5)      Dikalahkan oleh dinasti dari rumpun keluarganya sendiri, yaitu al-Muwahhidun.

Sedangkan menurut Abdul Hamid, sebagaimana yang dikutip oleh Taufiqurrahman, kehancuran Murabithun disebabkan juga diantaranya karena: 1) Ketidaksukaan sekelompok kalangan terdidik dari Andalusia terhadap pemerintahan Murabithun yang dianggap keras, bodoh, tidak bisa memahami sastra budaya, menolak filsafat dan kalam dan hanya mengagungkan fiqih dan tafsir. Sifat inilah yang menyulut kebencian orang-orang Andalusia; 2) Murabithun tidak bisa mempertahankan sikap keberanian, kekuatan, dan kefanatikan pada agama. Hal ini dapat dilihat setelah 20 tahun menguasai Andalusia mereka menjadi pemalas, pemabuk, pemuas hawa nafsu, perampok dan pencuri dan penguasanya bergelimang dengan kecantikan wanita.[9]

  1. 2.      Kemajuan dan Kemunduran Dinasti Muwahhidun
    1. a.      Kemajuan

Pada masa Muwahhidun, Spanyol mencapai puncak kejayaannya, terutama pada Zaman Mu’min, perkembangan peradaban Islam, terutama pengembangan ilmu politik dan ekonomi.[10]

1)      Dalam Bidang politik, dinasti Muwahhidun telah mampu menguasai wilayah kepulauan Atlantik sampai ke daerah teluk Gebes di Mesir dan Andalusia.

2)      Dalam bidang ekonomi, dinasti Muwahhidun telah berhasil menjalin hubungan perdagangan dengan beberapa daerah di Italia, seperti perjanjian perdagangan dengan Pisa pada tahun 1154 M, Marseie, Voince, dan Sycilia  pada tahun 1157 M yang  berisi ketentuan tentang perdagangan, izin mendirikan gudang, kantor, loji dan bentuk-bentuk pemungutan pajak.

3)      Dalam bidang arsitektur, dinasti Muwahhidun banyak menghasilkan karya-karya dalam bentuk monumen, seperti Giralda, menara pada masjid Jami’ Sevilla, Bab Aquwnaou, dan Al-Kutubiyah, menara yang sangat megah di Marakiyah serta menara Hasan di Rabbath.

4)      Dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat, banyak ilmuwan yang muncul pada masa dinasti Muwahhidun ini terutama pada masa kepemimpinan Abdul Mu’min dan Abu Yakub Yusuf adalah sebagai berikut :

a)      Ibrahim bin Malik bin Mulkun adalah seorang pakar al-Qur’an dan ilmu Nahwu.

b)      Al-Hafidz Abu Bakrbin al-Jad seorang ahli fikih, dan Ibnu al-Zuhr ahli kedokteran.

c)      Ibn Bajjah (533H/1139 M), seorang filosof dengan karyanya The Rule of Solitary. Ia juga ahli di bidang musik yang disebut Avenpace atau Abenpace.

d)     Ibnu Thufail (581 H/1105-1185 M), seorang filosof dengan karyanya Hayy bin Yaqzhan. Ia juga dikenal sebagai seorang dokter, ahli geografi dan juga dianggap sebagai penyair Andalusia atau yang dikenal dengan nama Al-Andalusi, Al-Kurtubi, atau Al-Isibily.

e)      Ibnu Rusyd (1126-1198 M), ia adalah seorang filosof, dokter, ahli matematika, fikih, ahli hukum, ahli astronomi atau dikenal dengan sebutan Averrous/ Averroisme di Barat.

  1. b.      Kemunduran

Setelah mengalami kekalahan selama satu abad (113-1169 M), Dinasti Muwahhidun mengalami kemunduran dan akhirnya hancur. Kemunduran ini terasa setelah an-Nashir wafat yang selanjutnya dipimpin oleh pimpinan yang lemah. Adapun faktor kemunduran dinasti Muwahhidun ini disebabkan oleh:[11]

1)      Perebutan tahta dikalangan keluarga.

2)      Melemahnya kontrol terhadap penguasa daerah.

3)      Mengendurnya tradisi disiplin.

4)      Memudarnya keyakinan akan keagungan misi al-Mahdi bin Tumart, bahkan namanya tidak disebut lagi dalam dokumen Negara.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

  1. Asal mula berdirinya dinasti Murabithun dan Muwahhidun

Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama di Afrika Utara yang didirikan oleh Abdullah ibn Yasin. Pada tahun 1062 M, Yusuf ibn Tasyfin yang diserahi pemerintahan pada masa selanjutnya, berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesh. Ia masuk ke Spanyol atas undangan penguasa-penguasa Islam yang tengah mempertahankan kekuasaannya dari serangan raja-raja kristen. Dinasti Al-Murabithun memegang kekuasan selama 90 tahun, dengan enam orang penguasa yaitu: Abu Bakar bin Umar (1056-1061 M), Yusuf bin Tasyfin (1061-1107 M), Ali bin Yusuf (1107-1143 M), Tasyfin bin Ali (1143-1145 M), Ibrahim bin Tasfin dan Ishak bin Ali.

Umat Islam lainnya tidak tinggal diam, mereka juga mendirikan daulah yang merupakan daulah penerus kekuasaan  umat Islam di Andalusia  yaitu daulah Muwahhidun  yang didirikan oleh Ibnu Tumart, selama itu tampak kekuasaan Andalusia dipegang oleh dinasti Muwahhidun setelah Murabithun mengalami kemunduran  yang disebabkan oleh para penguasa yang kurang cerdik dalam memimpin kekuasaannya, hal ini memberi kemudahan pada orang kristen  untuk menghancurkan Muwahhidun sehingga dinasti Muwahhidun runtuh dan tidak memegang kekuasaan di Andalusia karena sebagian daerah Andalusia dikuasai oleh orang kristen.

  1. Perkembangan dinasti Murabithun dan Muwahhidun

Dinasti Murabithun mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan arsiktektur bangunan masjid. Selain itu daulah inilah yang pertama membuat dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amir al-Mu’minin dibagian depan mencontoh uang Abbasiyah dan bertuliskan kalimat iman dibagian belakang. Dinasti ini mengalami kemunduran dan kehancuran pada tahun 541 H. Faktor-faktor penyebab runtuhnya pemerintahan dinasti Murabithun adalah: 1) Lemahnya disiplin tentara dan merajalelanya korupsi yang melahirkan disintegrasi; 2) Berubahnya watak keras pembawaan Barber menjadi lemah ketika memasuki kehidupan Maroko di Andalusia yang mewah; 3) Mereka memasuki Andalusia ketika kecemerlangan intelektual kalangan Arab telah mengganti kesenangan berperang; 4) Kontak dengan peradaban sedang menurun dan tidak siap mengadakan asimilasi; 5) Dikalahkan oleh dinasti dari rumpun keluarganya sendiri, yaitu al-Muwahhidun. Dinasti Muwahhidun menaklukkan Maroko pada tahun 1146-1147 M yang ditandai dengan terbunuhnya penguasa Al-Murabithun yang terakhir, Ishak bin Ali.

Lain halnya dengan Muwahhidun, pada masanya Andalusia mencapai puncak kejayaannya, terutama pada Zaman Abdul Mu’min, perkembangan peradaban Islam, terutama pengembangan ilmu, politik, ekonomi, arsitektur, ilmu pengetahuan dan filsafat. Pada masa Muwahhidun terdapat tokoh-tokoh Islam yang terkenal dan memberikan sumbangan yang besar bagi majunya ilmu pengetahun seperti: Ibn Tufayl, Ibn Rusd, Ibn Arbi, dll. Setelah mengalami kekalahan selama satu abad (113-1169 M), Dinasti Muwahhidun mengalami kemunduran dan akhirnya hancur. Kemunduran ini terasa setelah an-Nashir wafat yang selanjutnya dipimpin oleh pimpinan yang lemah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997.

 

Hitti, Philip K. History of the Arabs. Jakarta: PT. Saerambi Ilmu Semesta. 2010.

 

Taufiqurrahman. Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam: Daras Sejarah Peradaban Islam. Surabaya: Pustaka Islamika. 2003.

 

Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam klasik. Jakarta: kencana, 2011.

 

Abdurrahman, Dudung. Sejarah Peradapan Islam. Jogja: LESFI, 2004.

 

Thohir, Ajib. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar Akar Sejarah, Social, Politik,Dan Budaya Umat Islam. Jakarta: Logos, 2007.

 

 


[1]Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik  (Jakarta: Kencana, 2011) cet. Ke-4, 129.

[2]Philip K. Hitti, History of  The Arab, terj R. Cecep Lukman Yasin dkk (Jakarta,  PT Serambi Ilmu Semesta 2006 ), 688.

[3] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997). 66.

[4]Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, 134-135.

[5]Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradapan Islam ( Jogja, LESFI 2004 ), 228.

[6]Ibid.

[7]Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam (Surabaya: Pustaka Islamika, 2003), 170.

[8]Ibid., 171.

  [9]  Ibid.

[10]Ajib Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam: Melacak Akar Akar Sejarah, Social, Politik,Dan Budaya Umat Islam (Jakarta: Logos,2007 ), 112-114.

[11]Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, 140.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s